nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Diadili Kasus Suap, Bupati Nonaktif Labuhanbatu Menangis di Persidangan

Wahyudi Aulia Siregar, Jurnalis · Kamis 13 Desember 2018 15:59 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 12 13 608 1990823 diadili-kasus-suap-bupati-nonaktif-labuhanbatu-menangis-di-persidangan-KAE3zLInoB.jpg Bupati nonaktif Labuhanbatu, Sumut Pangonal Harahap. Foto: Okezone/Wahyudi Aulia

MEDAN - Kasus dugaan suap proyek Pemerintah Kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utata, untuk tahun 2016-2018 yang menyeret Bupati Nonaktif Kabupaten Labuhan Batu, Pangonal Harahap mulai disidangkan. Persidangan digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Medan, Kamis (13/12/2018) siang.

Dalam dakwaan yang dibacakan Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Pangonal dinilai telah menerima hadiah senilai Rp42,28 miliar dan SGD 218.000 dari pengusaha Efendy Sahputra alias Asiong. Pemberian uang itu melalui Thamrin Ritonga, Umar Ritonga (DPO), Baikandi Harahap dan Abu Yazid Anshori Hasibuan.

loading...

Patut diduga hadiah atau janji tersebut diberikan untuk menggerakkan agar Pangonal melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya.

"Uang Rp42,28 miliar dan SGD218.000 itu diberikan Asiong agar terdakwa memberikan beberapa paket pekerjaan di Kabupaten Labuhanbatu pada Tahun Anggaran 2016, 2017 dan 2018 kepadanya. Dan terdakwa pun memang memerintahkan jajarannya untuk memberikan proyek kepada perusahaan Asiong," kata jaksa saat membacakan dakwaan.

Foto: Okezone/wahyudi Aulia 

Dakwaan terhadap Pangonal dibacakan tim penuntut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di hadapan majelis hakim yang diketuai Irwan Effendi.

Baca: KPK Periksa Andi Narogong terkait Suap Bupati Labuhanbatu 

Baca: Bupati Labuhanbatu dan Kroni-kroninya Diduga Terima Total Suap Rp48 Miliar

Pangonal didakwa telah melakukan perbuatan yang diatur dan diancam pidana menurut Pasal 12 huruf a atau Pasal 11 UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana jo Pasal 64 ayat (1) KUHPidana.

Setelah pembacaan dakwaan, Pangonal dan penasihat hukumnya tidak menyampaikan eksepsi atau keberatan. Persidangan pun ditunda hingga pekan depan untuk mendengarkan keterangan saksi-saksi.

“Yang akan kami buktikan di persidangan yaitu penerimaan uang atas fee-fee proyek yang ada di Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu,” ucap Jaksa KPK Dody Sukmono seusai persidangan.

Sementara Pangonal terlihat duduk bersama keluarganya di bangku pengunjung ruang sidang. Dia tampak mencium tangan dan memeluk salah seorang anggota keluarganya sambil menangis. Mereka pun terlihat menangis bersama di sana.

Pangonal duduk di kursi terdakwa setelah terjaring operasi tangkap tangan (OTT) KPK di Jakarta dan Labuhanbatu, Sumut pada Selasa 17 Juli 2018.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini