nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Lokasi Longsor Sukabumi Dinilai Rawan Bencana dan Tak Layak Huni

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Rabu 02 Januari 2019 08:50 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 01 02 525 1998783 lokasi-longsor-sukabumi-dinilai-rawan-bencana-dan-tak-layak-huni-oyYS3Jry1Y.jpg Longsor Sukabumi (BNPB)

Apa penyebab longsor?

Pakar dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Adrin Tohari, menjelaskan penyebab tanah longsor di Kampung Cimapag salah satunya adalah kondisi tanah yang gembur.

"Tanah gembur itu kan mempunyai kuat geser atau shear strength yang sangat rendah jadi mudah sekali kekuatannya hilang ketika terkena penetrasi air hujan," tuturnya.

Namun ia menilai kondisi air di kawasan tersebutlah yang menjadi faktor dominan. Terdapat aliran air di bawah permukaan tanah yang kemudian naik sehingga menyebabkan lereng di situ menjadi lebih labil dibandingkan lereng di sekitarnya.

 Baca juga: BNPB: Korban Longsor Sukabumi Bertambah, 5 Tewas dan 38 Masih Dicari

"Air hujan itu akan mudah menjenuhi lereng itu karena di situ ada zona-zona air tanah yang terperangkap, yang mudah meningkatkan tekanan air pori dalam tanah," ia menambahkan.

Tapi Kecamatan Cisolok bukanlah kasus unik. Menurut Pusat Volkanologi dan Bencana Geologi, Kementerian ESDM, lebih dari 50% wilayah Kabupaten Sukabumi rentan terhadap longsor.

Peta yang diterbitkan PVMBG pada Desember 2018 menunjukkan sebagian besar wilayah Kabupaten Sukabumi memiliki potensi tinggi untuk terjadinya gerakan tanah. Itu berarti di wilayah-wilayah tersebut dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal — meski tidak semuanya merupakan wilayah permukiman.

Menurut Adrin Tohari, hal itu karena banyak daerah di Kabupaten Sukabumi yang tersusun dari material gunung api muda. Batuan-batuannya belum mengalami pemadatan sehingga kekuatannya sangat rendah.

"Nah daerah-daerah yang terbentuk oleh endapan-endapan gunung api muda itu, di mana tanah hasil pelapukannya itu menjadi tanah yang gembur maka ia akan lebih rentan terhadap longsoran gerakan tanah dibandingkan daerah-daerah yang tersusun oleh batuan-batuan yang lebih padat."

"Kalau lerengnya di sana, rata-rata dari mulai agak terjal sampai terjal dan biasanya longsoran terjadi pada lereng-lereng seperti itu," ia menjelaskan.

Maka dari itu, menurut Adrin, pihak berwenang perlu meningkatkan kapasitas masyarakat yang sudah lama tinggal di daerah rawan bencana demi mengurangi risikonya. Harapannya, masyarakat punya kesadaran untuk evakuasi mandiri ketika terjadi hujan.

Adrin menilai upaya yang selama ini dilakukan BPBD belum menjangkau semua masyarakat di daerah rawan karena sulitnya akses.

"Biasanya hanya mencakup daerah-daerah kecamatan saja yang aksesnya sangat mudah. Untuk bisa mencapai daerah-daerah yang terpencil seperti kampung, dusun itu masih agak sulit yah," ujarnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini