nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

3 Juta Perempuan India Unjuk Rasa Membentuk Rantai Manusia Sepanjang 620 Km

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Kamis 03 Januari 2019 07:40 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 01 03 18 1999249 3-juta-perempuan-india-unjuk-rasa-membentuk-rantai-manusia-sepanjang-620-km-FQoQMLEBsK.jpg Unjuk rasa perempuan di India membentuk rantai manusia. (Foto: CV Lenin)

JUTAAN perempuan di Negara Bagian Kerala, India, membentuk rantai manusia sepanjang 620 kilometer "untuk menyuarakan kesetaraan gender", menyusul perselisihan tentang akses perempuan ke kuil Hindu yang terkenal di sana. Kuil Sabarimala secara historis tertutup bagi wanita "usia menstruasi", antara 10 sampai 50 tahun.

Pengadilan Tinggi India membatalkan larangan itu pada September, tetapi para perempuan pengunjung tetap tak bisa masuk karena ribuan orang berunjuk rasa di kuil tersebut dan menghalangi mereka dengan berbagai cara.

Beberapa waktu lalu, sejumlah transgender bisa masuk kuil, karena dianggap bukan perempuan.

Unjuk rasa perempuan kali ini, disebut "tembok perempuan", digalang oleh pemerintah koalisi negara bagian itu yang berhaluan kiri.

Para pejabat mengatakan kepada wartawan BBC Hindi, Imran Qureshi, bahwa sekira 5 juta perempuan dari berbagai pelosok Kerala berkumpul di semua jalan raya nasional untuk membentuk rantai hidup yang membentang dari ujung utara Kasaragod ke ujung selatan di Thiruvanthapuram.

Sedangkan para penyelenggara memperkirakan perempuan yang turun membentuk rantai itu jumlahnya sekira 3 juta orang.

Para pejabat mengatakan demonstrasi singkat tersebut digalang untuk memerangi ketidaksetaraan dan melawan upaya kelompok-kelompok sayap kanan yang hendak terus menerapkan larangan terhadap perempuan.

Seorang demonstran, Kavita Das, mengatakan kepada BBC Hindi, "Ini adalah cara yang bagus untuk mengatakan betapa kuatnya perempuan dan bagaimana kita dapat memberdayakan diri sendiri dan saling membantu. Tentu saja saya mendukung gerakan untuk memungkinkan perempuan dari segala usia masuk ke kuil. Mereka yang ingin berdoa harus memiliki hak untuk berdoa. Tradisi apa pun tak boleh menghambat perempuan."

Perempuan lain, Tanuja Bhattadri, mengatakan, "Sabarimala bukan masalah utama di sini hari ini. Saya percaya bahwa lelaki dan perempuan itu setara."

Unjuk rasa dipicu larangan bagi perempuan untuk memasuki kuil. (Foto: CV Lenin)

Mengapa Jadi Begitu Politis?

Keputusan Mahkamah Agung untuk membolehkan perempuan berziarah dan berdoa di Kuil Sabarimala diambil setelah diajukannya petisi menyatakan bahwa kebiasaan yang melarang perempuan itu melanggar kesetaraan gender.

Tetapi partai nasional yang berkuasa di India, Partai Bharatiya Janata (BJP), yang berhaluan nasionalis Hindu, berpendapat bahwa keputusan itu merupakan serangan terhadap nilai-nilai Hindu.

Masalah ini semakin menjadi perdebatan menjelang pemilihan umum India, dijadwalkan bulan April dan Mei.

Sejumlah pengamat menuduh Perdana Menteri India Narendra Modi menggunakan isu agama yang memecah belah untuk mendapatkan suara dari basis dukungan mereka.

Hinduisme menganggap perempuan yang sedang haid tidak suci dan karenanya dilarang berpartisipasi dalam ritual keagamaan, tetapi sebagian besar kuil mengizinkan masuknya perempuan selama mereka tidak menstruasi, dan tidak menerapkan larangan secara luas pada perempuan.

Empat perempuan transgender beribadat di Kuil Sabarimala dengan dijaga 20 anggota polisi, beberapa waktu lalu. (Foto: BBC Hindi)

'Dewa Kuil Itu adalah Bujangan'

Para pengunjuk rasa berpendapat bahwa keputusan Mahkamah Agung itu juga bertentangan dengan keinginan dewa penguasa kuil, Dewa Ayappa.

Mereka mengatakan bahwa larangan perempuan memasuki Kuil Sabarimala bukan hanya tentang menstruasi, namun juga untuk memenuhi keinginan Dewa Ayappa, yang diyakini telah menetapkan aturan yang jelas tentang ziarah di sana untuk memperoleh berkat sang dewa.

Menurut mitologi kuil itu, Dewa Ayyappa adalah seorang bujangan yang diyakini telah berikrar untuk berselibat (tidak menikah), dan karenanya menerapkan larangan tersebut.

Sejumlah perempuan coba memasuki kuil itu di tengah protes besar-besaran, dan banyak yang terpaksa kembali.

Dua perempuan berhasil mencapai tempat utama di kuil tersebut pada Oktober lalu, dengan lebih dari 100 polisi melindungi mereka dari pengunjuk rasa yang melempari batu ketika mereka berjalan sejauh 5 km ke kuil.

Mereka akhirnya dipaksa kembali setelah terjadi bentrokan dengan para peziarah lain, hanya beberapa meter dari tempat suci Sabarimala.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini