nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ribuan Warga di Jembrana Bali Krisis Air Bersih Pasca-Banjir Bandang

Agregasi Balipost.com, Jurnalis · Kamis 10 Januari 2019 12:06 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 01 10 244 2002501 ribuan-warga-di-jembrana-bali-krisis-air-bersih-pasca-banjir-bandang-j7IOrrMk41.jpg Ilustrasi banjir bandang di Solok, Sumatera Barat (Rus Akbar/Okezone)

NEGARA – Pascabanjir bandang di Penyaringan, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Bali, ribuan jiwa dari ratusan kepala keluarga (KK) di empat banjar (wilayah adat) di desa ini mengalami krisis air bersih. Kondisi ini membuat warga harus mandi ke sungai atau ke pancuran bahkan ada yang sampai menampung air hujan untuk memasak.

Dari pengamatan di Banjar Pangkung Kwa, Desa Penyaringan, Rabu 9 Januari kemarin, warga harus mengambil air dengan jerigen ke pancuran di Pura Taman Pangkung Kwa. Demikian juga menurut warga, mereka mengambil air cukup jauh ke kran PDAM yang dibuka di perempatan.

“Ada bantuan dari Pemkab namun cuma dua kali datang. Bahkan kami sampai menaruh drum dan tempat air di depan rumah agar bisa diisi jika ada mobil tangki air bantuan lewat,” kata seorang warga Pangkung Kwa seperti dilansir Balipost, Kamis (10/1/2019).

Ketut Murni, warga Pangkung Kwa lainnya mengatakan di banjarnya semua warga mengalami krisis air. Bahkan di banjar lain juga krisis air. Ini sudah lama terjadi. “Kami kadang mengambil air ke kran PDAM yang cukup jauh. Biasanya antre pagi atau sore,” jelasnya.

Ngurah Suama yang mengambil air di pancuran Pura Taman mengatakan meski cukup jauh mengambil air itu terpaksa daripada tidak ada air. “Kami semua tergantung PDAM. Jadi pasca banjir bandang semua pada kekurangan air,” jelasnya.

Perbekel Penyaringan Made Destra dikonfirmasi membenarkan ada empat banjar di desanya yang terdampak krisis air bersih. Diantaranya Tibubeleng Kaler, Tibubeleng Tengah, Pangkung Kwa dan Tibubeleng Kelod. “Untuk Tibubeleng Kelod memang hanya setengahnya 25 persen,” katanya.

Dari empat KK itu ada 600 KK atau ribuan jiwa. Warganya katanya sejak krisis air bersih banyak yang mandi ke sungai bahkan sampai menampung air hujan untuk masak. “Ya memang warga kami memaklumi kondisi ini. Dan tidak bisa menyalahkan siapa-siapa karena alam. Kami juga sempat meminta bantuan ke Pemkab dan baru ada yang dapat 2 kali dan ada yang satu kali,” jelas Destra.

Ia berharap PDAM mempercepat pemulihan saluran air PDAM sehingga kondisi cepat normal kembali. “Mungkin tenaganya bisa ditambah sehingga perbaikan saluran bisa segera selesai dan kondisi bisa normal kembali. Kasihan warga kami,” harapnya.

Sementara itu, Direktur PDAM Tirta Amertha Jati Jembrana Ida Bagus Kerta Negara dikonfirmasi mengakui ada tujuh titik jaringan PDAM yang rusak dan terkena longsor karena banjir bandang. Jaringan yang longsor ada 3, sambungan di 3 jembatan dan di tempat proses pengangkatan air/pompa satu titik. “Sejak ada kerusakan kami sudah langsung bekerja. Bahkan yang sudah selesai di 6 titik dan tinggal lagi 1 titik. Kami harap tanggal 15 Januari sudah kelar semua,” harapnya.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini