nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

China Rilis Video Musisi Uighur yang Dilaporkan Meninggal di Kamp Penahanan

Rahman Asmardika, Jurnalis · Senin 11 Februari 2019 10:48 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 02 11 18 2016213 china-rilis-video-musisi-uighur-yang-dilaporkan-meninggal-di-kamp-penahanan-dcHXeqwBiV.jpg Musisi dan Penyair Uighur, Abdurehim Heyit. (CRI)

BEIJING – Sebuah video yang memperlihatkan penyair dan musisi Uighur, Abdurehim Heyit dipublikasikan secara daring oleh media China pada Minggu. Munculnya video-video yang tidak terverifikasi itu merupakan upaya media China untuk membantah laporan bahwa Heyit telah meninggal di kamp pengasingan di Provinsi Xinjiang.

Kasus Heyit menjadi perhatian dunia internasional setelah Kementerian Luar Negeri Turki melaporkan kematiannya sebagai bagian dari pernyataan yang menuntut China untuk menutup kamp-kamp pengasingan Uighur dan minoritas Muslim lainnya.

BACA JUGA: Turki Minta China Tutup Kamp Penahanan Etnis Muslim Uighur

Dalam video berdurasi 25 detik yang dirilis oleh layanan Radio Internasional China (CRI) di Turki, seorang pria yang diidentifikasi sebagai Heyit memperkenalkan dirinya. Tanggal dalam video tersebut menunjukkan rekaman itu dibuat pada 10 Februari.

"Saya sedang dalam proses penyelidikan karena diduga melanggar undang-undang nasional," katanya langsung ke arah kamera. "Saya sekarang dalam kondisi kesehatan yang baik dan tidak pernah disiksa."

Ini bukan pertama kalinya otoritas China merilis video aktivis yang ditahan yang memberikan "pengakuan" h atas kejahatan mereka. Namun, keaslian dan kebenaran video Heyit tersebut telah dipertanyakan warganet.

Berdasarkan keterangan Kementerian Luar Negeri Turki, pria berusia 57 tahun itu dilaporkan menjalani hukuman delapan tahun penjara karya-karyanya sebagai musisi. Demikian diwartakan Straits Times, Senin (11/2/2019).

Laporan Komite PBB menyebutkan , China telah menahan satu juta warga Uighur dan minoritas Muslim lainnya di jaringan kamp penahanan yang luas di Provinsi Xinjiang.

China mengatakan kebijakannya dimaksudkan untuk menghentikan penyebaran terorisme dan ekstremisme setelah kerusuhan etnis pada 2009 dan serangan teroris di Xinjiang dan tempat lain.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini