nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

100 Ribu Bayi Tewas Tiap Tahun Akibat Perang

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Jum'at 15 Februari 2019 19:50 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 02 15 18 2018581 100-ribu-bayi-tewas-tiap-tahun-akibat-perang-H9EI21WFSt.jpg Anak-anak korban perang di Suriah. Foto/Reuters

MUNICH— Sedikitnya 100 ribu bayi tewas setiap tahun akibat perang yang memberikan dampak kelaparan hingga penolakan bantuan kesehatan.

Data ini berdasarkan laporan yang dikeluarkan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) hak-hak anak, Save The Children International, pada Jumat (15/2/2019).

Laporan menyebutkan ada 550 ribu anak telah meninggal akibat perang sejak 2013 dan 2017.

Umumnya, para anak-anak itu meninggal akibat mengalami kelaparan, tak ada perawatan imbas rumah sakit yang rusak, serta kurangnya akses perawatan kesehatan hingga tak ada bantuan.

Foto/Reuters

Sedangkan anak-anak yang bertahan hidup atau cacat akan direkrut oleh kelompok bersenjata, diculik atau menjadi korban kekerasan seksual.

“Satu dari lima anak yang tinggal di daerah-daerah konflik. Angka ini lebih banyak dalam dua dekade terakhir,” kata CEO Save The Children International Helle Thorning-Schmidt, dalam sebuah pernyataan mengutip AFP via News24.

“Jumlah anak yang terbunuh atau cacat lebih dari tiga kali lipat. Dan kami melihat adanya peningkatan yang mengkhawatirkan,” katanya saat merilis laporan di Konferensi Keamanan yang diselenggarakan di Munich, Jerman.

Save The Children mengatakan, dalam sebuah penelitian dari Peace Research Institute Oslo menemukan bahwa 420 juta anak-anak tinggal di daerah terdampak konflik pada 2017.

Foto/Reuters

Jumlah ini mewakili 18 persen dari semua anak di seluruh dunia dan naik 30 juta dari tahun sebelumnya.

Negara-negara yang masuk dalam daftar negara paling terdampak perang adalah Afganistan, Republik Afrika Tengah, Republik Demokratik Kongo, Iraq, Mali, Nigeria, Somalia, Sudan Selatan, Suriah dan Yaman.

Jumlah total kematian akibat efek tidak langsung selama periode lima tahun melonjak menjadi 870 ribu.

Foto/Reuters

Badan amal tersebut juga merilis daftar rekomendasi untuk membantu melindungi anak-anak dengan langkah seperti komitmen batas usia minimum 18 tahun untuk perekrutan militer hingga menghindari penggunaan senjata berbahan peledak di daerah-daerah berpenduduk.

Thorning-Schmidt mengatakan meningkatnya jumlah anak sebagai korban sangat mengkhawatirkan.

“Sangat mengejutkan bahwa pada abad ke-21 kita mengalami kemunduran pada prinsip dan standar moral yang begitu sederhana, anak-anak dan warga sipil seharusnya tidak boleh menjadi sasaran.”

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini