"Anggota militer sudah lelah. Kami tidak bisa selamanya menjadi budak, kami membebaskan diri kami sendiri," ungkapnya.
Baca juga: Bantuan dari AS dan Brasil Tembus Blokade Pemerintah Venezuela
Seorang pembelot lainnya, seorang perempuan, menggambarkan hari Sabtu lalu sebagai situasi yang penuh "ketegangan". Dia juga berkata: "Saya berpikir bahwa saya tidak bisa menyakiti warga saya sendiri.

"Anak perempuan saya masih di Venezuela dan itu yang terasa sangat menyakitkan. Tetapi saya melakukan hal ini untuknya. Ini sangat sulit karena saya tidak tahu apa yang akan mereka lakukan terhadapnya."
Pembelot lainnya mengatakan bahwa ia merasa pedih harus melihat warga Venezuela saling serang demi bantuan kemanusiaan.
"Saya merasa tak berdaya dan tak berguna. Saya merasa sakit melihat semua yang terjadi," ujarnya.
Apa perkembangan terbarunya?
Pada Minggu (24/2), Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, mengatakan bahwa kekuasaan Presiden Maduro di Venezuela "tinggal menghitung hari" menyusul insiden berdarah akhir pekan kemarin.
"Memilih hari tertentu itu sulit. Saya yakin warga Venezuela akan memastikan bahwa kekuasaan Maduro tinggal menghitung hari," ujar Pompeo.
Setidaknya dua orang tewas hari Sabtu (23/2) lalu dalam bentrokan antara warga sipil dengan tentara loyalis Maduro.
Baca juga: Tolak Bantuan dari Amerika, Presiden Maduro Akan Tutup Perbatasan Venezuela-Kolombia