nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gaya Presiden Meksiko: Naik Pesawat Ekonomi, Swafoto Bareng Warga hingga Bepergian Tanpa Pengawalan

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Senin 11 Maret 2019 14:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 03 11 18 2028404 gaya-presiden-meksiko-naik-pesawat-ekonomi-swafoto-bareng-warga-hingga-bepergian-tanpa-pengawalan-UPG45HDbCr.jpg Presiden Meksiko swafoto bareng warga. Foto/Reuters

MEXICO CITY — Dalam 100 hari pertama menjabat, Presiden Meksiko Andres Manuel Lopez Obrador menciptakan gaya baru pemerintahan, yang membuat popularitasnya meningkat. Walaupun beberapa kali salah langkah, popularitasnya tidak surut.

Dibandingkan puluhan tahun gabungan masa kepresidenan pendahulu-pendahulunya, Lopez Obrador menjawab lebih banyak pertanyaan media, lebih sering pergi dengan pesawat kelas ekonomi, ber-swafoto dengan warga yang mengaguminya dan mengunjungi daerah-daerah yang lebih berisiko dengan sedikit atau tanpa pengawalan.

Ia juga mengejutkan banyak orang karena menjaga hubungan baik dengan Presiden Amerika Donald Trump, membantu mengendalikan karavan migran Amerika Tengah tetapi menentang upaya Amerika menggulingkan pemerintahan sayap kiri Venezuela.

BacaPerangi Pencurian BBM, Presiden Meksiko Dikirim Bom Palsu oleh Anggota Geng

BacaMantan Presiden Meksiko Disebut Terima Suap Rp1,4 Triliun dari Raja Narkoba El Chapo

Lopez Obrador mulai menjabat presiden 1 Desember lalu dan pada akhir bulan pertama berkuasa, peringkat popularitasnya melampaui 80 persen.

Foto/Reuters

Ia memanfaatkan sepenuhnya mandat sebagai presiden untuk bergerak cepat dalam banyak bidang sehingga banyak yang menilainya terlalu banyak.

Bahkan sebelum menjabat, Lopez Obrador mengadakan referendum mengenai pembangunan sebagian Bandara Mexico City bernilai 13 miliar dolar. Ia menggunakan hasil referendum itu sebagai lampu hijau untuk membatalkan proyek yang ditentangnya.

Bagi Lopez Obrador, prinsip kebijakan luar negeri Meksiko adalah tidak campur tangan, dan ia menyerahkan urusan itu pada menteri luar negerinya, Marcelo Ebrard.

Tetapi beberapa kritikus mengatakan Meksiko melakukan hal yang diinginkan Presiden Trump dengan menerima program "Tetap di Meksiko" dan membatasi pergerakan karavan para migran Amerika Tengah itu.

Program "Tetap di Meksiko" memaksa pemohon suaka dari Amerika Tengah menunggu penyelesaian kasus mereka dengan tetap berada di perbatasan sisi Meksiko.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini