nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Polusi Udara Lebih Banyak Menyebabkan Kematian Dibanding Rokok

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Rabu 13 Maret 2019 15:54 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 03 13 18 2029443 polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok-LFk7fNDKMf.jpg Ilustrasi Foto/Reuters

LONDON – Riset terbaru menyatakan bahwa polusi udara menyebabkan lebih banyak kematian dibandinkan dengan rokok.

Para peneliti di Jerman dan Siprus memperkirakan bahwa polusi udara menyebabkan 8,8 juta kematian pada tahun 2015. Angka itu dua kali lipat dari tahun sebelumnya yang hanya 4,5 juta.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan rokok telah menyebabkan kematian sekitar 7 juta orang per tahun di seluruh dunia.

Para peneliti yang berasal dari Perhimpunan Kardiologi Eropa, menyatakan bahwa polusi udara di Eropa menjadi penyebab 7.90.000 kematian, 40 dan 80 persen di antaranya karena penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung dan stroke.

"Karena sebagian besar partikel dan polutan udara lainnya di Eropa berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, kita perlu beralih ke sumber lain untuk menghasilkan energi," Prof Jos Lelieveld dari Max-Plank Institute for Kimia di Mainz dan Institut Siprus Nicosia, Siprus mengutip Reuters, Rabu (13/3/2019).

"Ketika kita menggunakan energi bersih dan terbarukan, kita tidak hanya memenuhi Persetujuan Paris (Konverensi Perubahan Iklim-red) untuk mengurangi dampak perubahan iklim, kita juga bisa mengurangi tingkat kematian terkait polusi udara di Eropa hingga 55 persen."

Foto/Reuters

Penelitian yang dipublikasikan di European Heart Journal, berfokus pada ozon dan partikel polusi terkecil, yang dikenal sebagai PM2.5, yang sangat berbahaya bagi kesehatan karena dapat menembus ke dalam paru-paru dan bahkan mungkin dapat masuk ke dalam darah.

Para peneliti mengatakan data baru menunjukkan dampak kesehatan berbahaya akibat PM2.5.

Baca: 5 Hal Pertanda Sudah Terlalu Banyak Terpapar Polusi Udara

 BacaTaj Mahal Berubah Warna Akibat Polusi Udara

Mereka mendesak pengurangan batas atas untuk PM2.5 di Uni Eropa, yang saat ini ditetapkan pada 25 mikrogram per meter kubik, 2,5 kali lebih tinggi dari standar WHO.

"Di Eropa, nilai maksimum yang diizinkan ... terlalu tinggi," kata Lelieveld dan penulis bersama Prof. Thomas Munzel, dari Departemen Kardiologi University Medical Center Mainz di Jerman, dalam sebuah pernyataan bersama.

"Di AS, Australia, dan Kanada, pedoman WHO diambil sebagai dasar undang-undang, yang juga diperlukan di UE."

Di seluruh dunia, polusi udara menyebabkan 120 kematian tambahan dalam setiap 100.000 orang per tahun, dengan kematian di beberapa bagian Eropa pada tingkat yang lebih tinggi hingga 200 dalam 100.000.

"Untuk menempatkan ini ke dalam perspektif, ini berarti bahwa polusi udara menyebabkan lebih banyak kematian ekstra per tahun daripada merokok," kata Munzel.

"Merokok bisa dihindari tetapi polusi udara tidak."

Jakarta Terburuk Se-Asia Tenggara

Greenpeace organisasi yang berfokus pada lingkungan dan memiliki cabang di lebih dari 40 negara menyatakan bahwa kualitas udara di Jakarta dianggap sebagai yang terburuk se-Asia Tenggara.

Dalam laman Greenpeace menyatakan, konsentrasi rata-rata tahunan PM2,5 pada tahun 2018 di Jakarta sangat buruk, di mana Jakarta Selatan mencapai 42.2 dan Jakarta Pusat mencapai 37,5.

Artinya kualitas di Jakarta mencapai empat kali lipat di atas batas aman menurut standar WHO.

Foto/Okezone

Meningkatnya jumlah kendaraan pribadi yang beraktifitas di Jakarta setiap harinya menyebabkan kualitas udara menjadi buruk.

Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.

“Kami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,” kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini