Saat dijemput pertama kali, tutur Daryuanto, Fatir dalam kondisi fisik yang tak menentu. Rambutnya panjang tak terawat, dengan kulit wajah dan sebagian badannya berbekas akibat luka bakar. Bahkan, ketika itu Fatir hanya memakan material kasur karena tak kuasa menahan rasa lapar.
"Nggak ada makanan di kontrakannya. Makanya begitu sampai sini langsung dimandikan, lalu diberi makan. Rantainya juga baru dilepas setelah sampai di Rumah Singgah, karena sudah karatan, dan kuncinya juga nggak ada. Dugaan kita, dia dipasung karena himpitan ekonomi keluarga," ujarnya.
(Baca Juga: BPS: Angka Kemiskinan di Banten Naik, Rokok Salah Satu Penyebabnya)
Kini, Fatir terus didampingi oleh sejumlah relawan di Rumah Singgah. Dia pun mulai bisa berjalan meski dengan langkah gontai. Setiap kali menginginkan sesuatu, Fatir hanya bisa berteriak kecil seraya menunjukkan jarinya tanpa mampu mengeluarkan kalimat secara jelas.
"Memang enggak bisa bicara, tapi kita belum tahu apakah karena menderita penyakit atau memang karena trauma. Karena selama ini nggak pernah kena sinar matahari, kita sangat prihatin," ujarnya.
(Arief Setyadi )