Share

Cerita Guru Mendapat Banyak Ilmu saat Mengikuti Pelatihan di Luar Negeri

Tim Okezone, Okezone · Senin 25 Maret 2019 21:00 WIB
https: img.okezone.com content 2019 03 25 1 2034864 cerita-guru-mendapat-banyak-ilmu-saat-mengikuti-pelatihan-di-luar-negeri-alX8JlWlTF.jpg Foto: Okezone

JAKARTA – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah mengirim 1.000 guru ke luar negeri untuk pelatihan selama tiga pekan. Kini mereka sudah pulang dengan membawa banyak pengalaman.

Salah satu peserta pelatihan, Ikhwansyah yang merupakan Guru TIK asal SMA Negeri 1 Padang mengatakan, ia dan 20 rekannya mendapat materi Vocational Teacher Training On Coding Skill di Amity University, Noida, India.

“Yang kami dapatkan banyak sekali, terutama di bidang IT yang sangat pesat di India. Kami melihat kenapa mereka bisa maju, adalah prinsip-prinsip TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) ini memang sebuah kebutuhan yang sangat perlu ditanamkan semenjak usia dini kepada anak do sekolah, mulai dari SD,SMP,SMA,” ucapnya.

“Para siswa sudah diberikan materi dasar coding atau bahasa pemrograman dimana dengan pemahaman coding nantinya siswa akan lebih mudah untuk menjadi seorang ahli di bidang IT terutama programmer,” tambah Ikhwansyah ketika ditemui di sela acara Menyambut Pulangnya 1.000 Guru di Hotel Millenium Jakarta, Senin (25/3/2019).

Dia menambahkan bahwa pada dasarnya mereka membuat sebuah coding sehingga nanti mereka bisa membuat aplikasi yang mereka butuhkan dan berharap Indonesia bisa seperti India sebagai penghasil software yang berguna.

“Karena perusahaan yang kami kunjungi (di India), mereka sudah bisa sebagai penghasil software dan itu digunakan di negara lain seperti Amerika. Sementara di Indonesia hanya sebagai user atau pengguna saja. Dan yang kedua dari segi bahasa, mereka sudah biasa belajar bahasa Inggris sejak kecil atau Paud,” ucap Ikhwansyah.

Ia pun akan membagikan ilmu yang ia dapatkan di sekolah. “Nantinya yang saya akan ajarkan di sekolah yaitu menerapkan apa yang sudah saya dapatkan d India terkait IT ini. Minimal di sekolah tempat yang saya ajarkan, nanti baru kita imbaskan ke teman-teman melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) baik kota maupun provinsi,” tuturnya.

Ikhwan berharap agar nantinya anak didiknya bisa disiapkan untuk mampu bersaing di dalam perkembangan teknologi. Sebab jika sudah tertinggal,nantinya Indonesia hanya sebagai user atau pengguna saja.

Selain Ikhwansyah, ada juga Guru Ekonomi SMA Negeri 2 Boyolali, Ismawanto yang mendapat pelatihan di The University Of Queesland Australia. Menurutnya lingkungan dan kehidupan di sana tertata rapi. Kemudian tertib serta memiliki kedisiplinan yang luar biasa.

Bahkan tidak ada yang menggunakan gadget saat belajar, dan juga sangat menghormati orang lain baik di luar lingkungan sekolah maupun didalam sekolah. Dari sisi pendidikan juga sudah tertata kebijakan-kebijakannya sehingga guru, kepala sekolah, TU, dan siswa mengusung pendidikan yang sangat tinggi.

“Setiap sekolah diberikan kebebasan untuk kebijakan masing-masing , tetapi komitmen untuk sukses itu sangat tinggi dalam sistem pendidikan. Sisi pembelajaran sangat aktif dan antusias baik guru dengan siswa. Ketika siswa ada masalah langsung ditangani di sana karena ada yang namanya support teacher. Jadi ada dua guru satu sebagai pendamping untuk mengatasi siswa yang barangkali ada kesulitan,” ujar Ismawanto.

Dia menambahkan bahwa sarana dan prasarana Australia sangat lengkap. Semuanya sudah mnggunakan peralatan canggih sehingga sangat mendukung sekali di era revolusi industri 4.0. Sedangkan di luar belajar mengajar juga ada pengembangan bakat siswa sesuai minatnya masing-masing. Misalnya ada siswa yang suka seni, ternak, pertanian, dan lain-lain, maka akan diarahkan oleh guru pembimbingnya.

Berdasarkan hal ini, Ismawanto berharap agar mindset guru perlu ditingkatkan lagi bahkan dirubah agar lebih baik untuk kedepannya. Ia pun akan berusaha mengimplementasikan ilmu yang sudah dia dapat.

“Hanya komitmenya saja yang harus dikembangkan dan dimantapkan lagi supaya semua guru itu berkomitmen terhadap proses pembelajaran. Apalagi kita semua kan sudah dapat sertifikasi, itukan bisa dijadikan motivasi peningkatan proses pembelajaran di kelas, supaya ke depannya anak-anak dapat lebih maju,” katanya.

Sementara Guru Kimia SMA Negeri 6 Padang, Vivi Wirni mendapat pelatihan di China dengan tema kegiatan STEM ICT, STEM (science, technology, engineering and mathematics) Information Communication Technology (ICT) yang berlokasi di Jiangsu Normal University.

Di China, Vivi menerima materi tentang bagaimana mengajar matematika, fisika, dan biologi yang tidak monoton. “Di sana seperti lomba saja, presentasi di hadapan professor dengan menampilkan video. Ketika saya sedang mengajar di dalam kelas, di situ kita sembari dinilai. Dan Alhamdulillah saya dapat apresiasi The Bestnya,” kata Vivi.

Vivi berharap agar pola pengajaran guru diubah alias tidak hanya menerangkan saja, tetapi sambil bertanya kepada siswa. Bahkan memberikan soal dengan hitungan waktu cepat agar siswa tersebut antusias jika mengerjakan soal dengan waktu. “Dan jangan pernah menyalahkan siswa yang tidak pernah baca dan lain-lain, tapi lihat dulu gurunya apakah dia sudah membaca? Jadi ubahlah dulu mindsetnya,” ucapnya.

“Seperti saya mengajarkan siswa dengan memutar video, buktinya mereka enjoy sambil bernyanyi sebelum belajar. Penggabungan seperti itu ternyata sudah termasuk STEM ICT. Pelajarannya kimia tapi ada seninya jadi mereka gak bosan,” tambahnya.

Selain itu ketika siswa lagi mengerjakan soal, guru tidak boleh pelit memberi reward. Reward itu bisa memberi siswa pulpen.

Selian itu tidak boleh membeda-bedakan siswa, tetapi semuanya harus diperlakukan sama. “Seperti bikin kelompok campuran antara siswa yang pintar dengan siswa yang kurang. Jadi belajar untuk sportif dan tidak untuk egois lagi. Hal seperti itu sebagai contoh metode pembelajaran dengan teman sebaya,” pungkasnya.

Lebih lanjut, pengiriman 1.000 guru ke luar negeri bertunjuan menambah pengalaman tenaga didik dalam sistem pembelajaran di era Revolusi 4.0. Kemendikbud menyebar 1.000 guru untuk pelatihan di 12 negara, yakni ke China, India, Korea Selatan, Finlandia, Australia, Jerman, Jepang, Prancis, Singapura, Tiongkok, Hongkong, dan Belanda.(Retno/M)

(abp)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini