Dia menambahkan bahwa sarana dan prasarana Australia sangat lengkap. Semuanya sudah mnggunakan peralatan canggih sehingga sangat mendukung sekali di era revolusi industri 4.0. Sedangkan di luar belajar mengajar juga ada pengembangan bakat siswa sesuai minatnya masing-masing. Misalnya ada siswa yang suka seni, ternak, pertanian, dan lain-lain, maka akan diarahkan oleh guru pembimbingnya.
Berdasarkan hal ini, Ismawanto berharap agar mindset guru perlu ditingkatkan lagi bahkan dirubah agar lebih baik untuk kedepannya. Ia pun akan berusaha mengimplementasikan ilmu yang sudah dia dapat.
“Hanya komitmenya saja yang harus dikembangkan dan dimantapkan lagi supaya semua guru itu berkomitmen terhadap proses pembelajaran. Apalagi kita semua kan sudah dapat sertifikasi, itukan bisa dijadikan motivasi peningkatan proses pembelajaran di kelas, supaya ke depannya anak-anak dapat lebih maju,” katanya.
Sementara Guru Kimia SMA Negeri 6 Padang, Vivi Wirni mendapat pelatihan di China dengan tema kegiatan STEM ICT, STEM (science, technology, engineering and mathematics) Information Communication Technology (ICT) yang berlokasi di Jiangsu Normal University.
Di China, Vivi menerima materi tentang bagaimana mengajar matematika, fisika, dan biologi yang tidak monoton. “Di sana seperti lomba saja, presentasi di hadapan professor dengan menampilkan video. Ketika saya sedang mengajar di dalam kelas, di situ kita sembari dinilai. Dan Alhamdulillah saya dapat apresiasi The Bestnya,” kata Vivi.
Vivi berharap agar pola pengajaran guru diubah alias tidak hanya menerangkan saja, tetapi sambil bertanya kepada siswa. Bahkan memberikan soal dengan hitungan waktu cepat agar siswa tersebut antusias jika mengerjakan soal dengan waktu. “Dan jangan pernah menyalahkan siswa yang tidak pernah baca dan lain-lain, tapi lihat dulu gurunya apakah dia sudah membaca? Jadi ubahlah dulu mindsetnya,” ucapnya.