nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Korea Utara Tembak Mati 2 Peramal Nasib di Depan Warga

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Jum'at 12 April 2019 15:27 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 04 12 18 2042570 korea-utara-tembak-mati-2-peramal-nasib-di-depan-warga-0W10DrHnUH.jpg Bendera Korea Utara. Foto/Reuters

PYONGYANG - Dua peramal nasib ditembak mati oleh pasukan Korea Utara di depan warga.

Sedangkan peramal ketiga dipenjara seumur hidup setelah menjalani persidangan di depan umum.

Ribuan orang dibawa untuk menghadiri persidangan umum di kota utara Chongjin pada bulan Maret sebelum hukuman dijatuhkan.

Seeorang narasumber mengatakan kepada Radio Free Asia bahwa eksekusi mati dilakukan untuk menertibkan warga karena kegiatan peramalan telah semakin marak.

"Bahkan pejabat tinggi dan keluarga pejabat pengadilan sering mengunjungi peramal nasib sebelum mengatur pernikahan atau membuat kesepakatan bisnis,” kata sumber itu yang tidak mau disebut namanya.

Sejumlah perempuan peramal telah membentuk kelompok yang disebut Kelompok Tujuh Bintang dan mengklaim bahwa dua anak, yang berusia tiga dan lima tahun, dapat menceritakan masa depan.

BacaPanen Korea Utara Terburuk Dalam 10 Tahun

BacaKorut Larang Warganya Minuman Keras dan Bernyanyi, Ini Penyebabnya

Korea Utara tidak mentolerir aktivitas ramal karena mengancam otoritas pemimpin tertinggi Kim Jong-un, di mana ia dianggap setengah dewa.

Foto/AFP

Oleh karena itu, segala dan semua ancaman terhadap otoritasnya akan dihilangkan.

Sebuah laporan PBB tentang hak asasi manusia di negara itu pada 2014 menemukan bahwa eksekusi mati di depan warga rutin dilakukan.

"Sebagai kebijakan negara, pihak berwenang melakukan eksekusi, dengan atau tanpa pengadilan, secara terbuka atau diam-diam, sebagai tanggapan atas kejahatan politik dan kejahatan lainnya yang seringkali bukan merupakan kejahatan paling serius," kata laporan itu.

"Kebijakan melaksanakan eksekusi publik secara teratur berfungsi untuk menanamkan rasa takut pada populasi."

Ribuan orang Korea Utara diyakini dikurung di kamp-kamp kerja yang secara efektif berarti hukuman mati, karena mereka tidak akan pernah dibebaskan.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini