nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sri Lanka Berlakukan Jam Malam Pasca-Serangan Bom di Gereja dan Hotel

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Senin 22 April 2019 06:46 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 04 22 18 2046267 sri-lanka-berlakukan-jam-malam-pasca-serangan-bom-di-gereja-dan-hotel-nCBuKbSdQf.jpg Lokasi bom Sri Lanka. (Foto: Getty Images)

PEMERINTAH Sri Lanka memberlakukan jam malam di seluruh negeri hingga waktu yang tidak ditentukan menyusul serangan bom di sejumlah gereja dan hotel pada Minggu 21 April 2019. Hingga kini sedikitnya 207 orang meninggal dunia dan 450 lainnya mengalami luka dalam serangan bertepatan dengan perayaan Paskah itu.

Menteri Pertahanan Sri Lanka Ruwan Wijewardane mengatakan larangan keluar pada malam hari diberlakukan hingga pemberitahuan lebih lanjut. "Kami akan menempuh segala tindakan yang diperlukan untuk melawan kelompok ekstrem yang beroperasi di negara kami," tegasnya.

Sejauh ini belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan bom itu. Kementerian Pertahanan menyatakan serangan kemungkinan dilakukan oleh satu kelompok, tanpa memerinci kelompok yang dimaksud.

Selain memberlakukan jam malam, pihak berwenang juga memblokade sementara akses ke media sosial sebagai langkah mencegah berbagai spekulasi atau informasi menyesatkan terkait serangan tersebut.

Bom Sri Lanka. (Foto: Ishara S Kodikara/AFP)

Tidak Ada Informasi WNI Menjadi Korban

Di antara 207 orang yang meninggal dunia, terdapat 27 warga negara asing. Menteri Luar Negeri Belanda Stef Blok mengatakan seorang warga negaranya turut menjadi korban. Adapun kantor berita Turki Anadolu melaporkan dua WN Turki juga turut menjadi korban meninggal.

Sementara Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dalam pernyataannya pada Minggu 21 April 2019 menyatakan, "Hingga saat ini tidak ada informasi mengenai WNI yang menjadi korban dalam insiden tersebut."

Menurut pihak Kemenlu RI, terdapat sekira 374 WNI di Sri Lanka, termasuk 140 orang di antaranya berada di Kolombo.

Bagi keluarga dan kerabat yang membutuhkan informasi lebih lanjut, Kemenlu RI menyarankan agar menghubungi nomor telepon KBRI Kolombo +94772773127. Akan tetapi, sambungan telepon gagal masuk ketika BBC News Indonesia coba menghubungi beberapa kali.

Bom Sri Lanka. (Foto: Facebook Gereja St Sebastian di Waga)

Kecaman Dunia

Masih dalam pernyataan Kemenlu RI, disebutkan bahwa Indonesia mengecam keras aksi pengeboman di berbagai lokasi di Sri Lanka. "Pemerintah dan rakyat Indonesia menyampaikan duka mendalam kepada korban dan keluarga korban."

Delapan ledakan dilaporkan terjadi, termasuk di tiga gereja di Negombo, Batticaloa, dan Kochchikade di Kolombo, ketika dilangsungkan perayaan Paskah.

Serangan bom juga menyasar empat hotel, termasuk tiga hotel mewah di ibu kota: Shangri-La, Kingsbury, dan Cinnamon Grand.

Perdana Menteri Inggris Theresa May mengunggah pernyataan melalui Twitter dengan mengatakan, "Aksi kekerasan di gereja-gereja dan hotel-hotel di Sri Lanka benar-benar mengerikan."

Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menyampaikan dukacita mendalam atas serangan teroris yang mengerikan itu.

Kemudian Paus Fransiskus turut mengecam serangan sebagai kekerasan yang begitu kejam dengan sasaran umat Kristen yang sedang merayakan Paskah.

Kardinal Kolombo, Malcolm Ranjith, mengatakan kepada BBC, "Situasi ini sangat sulit dan sangat menyedihkan bagi kami semua karena kami tidak pernah memperkirakan hal ini akan terjadi dan khususnya di Hari Paskah."

Di jajaran pemerintahan, Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Wickremesinghe juga mengutuk serangan. "Saya mengutuk keras serangan pengecut terhadap rakyat kami hari ini. Saya menyerukan kepada seluruh rakyat Sri Lanka untuk tetap bersatu dan kuat dalam situasi tragis ini."

Bom Sri Lanka. (Foto: Ishara S Kodikara/AFP)

Agama di Sri Lanka

Buddha Theravada tercatat sebagai agama terbesar di Sri Lanka. Berdasarkan sensus terbaru, sekira 70,2 persen penduduk negara itu memeluk agama Buddha.

Agama tersebut dianut oleh Etnik Sinhala yang merupakan mayoritas. Buddha mendapat tempat utama dalam hukum di Sri Lanka dan bahkan secara khusus dicantumkan dalam konstitusi.

Selain Buddha, terdapat pula penganut Hindu sekira 12,6 persen dan Muslim 9,7 persen dari total penduduk.

Berdasarkan sensus 2012, sekira 1,5 juta penduduk Sri Lanka beragama Kristen, sebagian besar adalah Katolik Roma.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini