nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Serangan Koalisi AS Tewaskan 1.600 Warga Sipil Suriah

Agregasi VOA, Jurnalis · Jum'at 26 April 2019 11:34 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 04 26 18 2048285 serangan-koalisi-as-tewaskan-1-600-warga-sipil-suriah-yYJyoXzujQ.jpg Anak-anak korban perang di Suriah. Foto/Reuters

RAQQA — Serangan udara dan artileri Amerika, Inggris dan Perancis terhadap ISIS di Raqqa, Suriah, menewaskan lebih dari 1.600 warga sipil, menurut penyelidikan Amnesty International. Tim peneliti menggabungkan hasil hitungan langsung dengan sumber terbuka dan data satelit untuk mengidentifikasi masing-masing serangan udara itu dan korban.

Laporan VOA, pasukan koalisi mengakui beberapa warga sipil tewas dalam operasi tahun 2017 tetapi membantah jumlahnya.

Serangan koalisi untuk merebut kembali ibukota Raqqa, yang dinyatakan ISIS sebagai ibukota kekhalifahannya, dimulai Juni 2017.

Selama lima bulan, Amnesty international, organisasi HAM, mengklaim serangan itu menewaskan lebih dari 1.600 warga sipil.

Setelah penyelidikan dua tahun, Amnesty mengumpulkan nama lebih dari 1.000 korban dan memverifikasi 641 kematian di Raqqa.

Amnesty bekerja bersama kelompok penyelidik Airwars selama dua bulan di Raqqa, mewawancarai penyintas dan mendatangi lokasi serangan.

BacaPangeran Saudi: Penarikan Mundur Pasukan AS dari Suriah Akan "Perkuat Iran"

BacaTrump: Penarikan Mundur Pasukan AS dari Suriah Dilakukan Secara Tepat

Peneliti menggunakan sumber terbuka dan data satelit untuk mencari-tahu kapan masing-masing dari lebih 11 ribu bangunan hancur di Raqqa dihantam. Mereka membuat rekonstruksi virtual 3D dari kota yang hancur itu.

Donatella Rovera dari Amnesty International mengatakan, "Ribuan sukarelawan di seluruh dunia secara online mempelajari lebih dari 2 juta bingkai gambar satelit.

Pada saat sama, ada rekan laboratorium bukti yang bermitra dengan beberapa universitas, dan kami meminta mahasiswa mempelajari setiap informasi yang keluar dari Raqqa, setiap video, setiap unggahan di Facebook tentang lokasi orang, dan ucapan belasungkawa atas kerabat yang meninggal."

Rovera mengatakan beberapa serangan koalisi jelas-jelas tidak pandang bulu.

"Pasukan Amerika bangga karena menggunakan lebih banyak artileri di Raqqa daripada di tempat mana pun sejak perang Vietnam. Itu tidak perlu dibanggakan karena risiko bagi warga sipil tidak bisa diterima. Dan tentang tembakan udara, tembakan itu memang tepat tetapi setiap ketepatan tembakan jelas hanya setepat kecerdasan Anda," tambahnya.

Dalam video propaganda, ISIS menggambarkan Raqqa sebagai ibu kota utopia kekhalifahannya. Amnesty mengatakan, kelompok teror itu menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia, memasang ranjau pada jalur keluar dari kota itu dan menembak siapa saja yang mencoba melarikan diri.

Tetapi peneliti mengatakan pasukan koalisi juga harus mengakui tanggung jawab atas besarnya jumlah korban. Menanggapi bukti yang ada, menurut Amnesty, pasukan koalisi mengakui kematian warga sipil dalam jumlah yang jauh lebih kecil.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini