nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Warga Australia Tertipu Rp500 Miliar di 2018

ABC News, Jurnalis · Selasa 30 April 2019 09:05 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 04 30 18 2049690 warga-australia-tertipu-rp500-miliar-di-2018-NScGEUcnt0.jpg Penipuan telepon (Shutterstock)

AUSTRALIA - Walau sudah dikeluarkan peringatan secara teratur namun jumlah kerugian yang dialami warga Australia setiap tahunnya karena penipuan semakin meningkat.

Menurut Lembaga Perlindungan Konsumen Australia (ACCC) di tahun 2018, jumlah kerugian mencapai hampir setengah miliar dolar atau setara dengan Rp500 miliar.

Namun ACCC mengatakan angka itu pun mungkin baru "puncak gunung es" saja, artinya jumlah kerugian yang tidak dilaporkan mungkin jauh lebih besar lagi.

 Baca juga: Sejumlah Bandara di Australia Kacau Imbas Sistem Komputer Tidak Berfungsi

ACCC mengatakan kerugian akibat penipuan yang dilaporkan di tahun 2018 mencapai 489 juta dolar Australia, naik 44 persen dari angka di tahun 2017 yaitu 340 juta dolar Australia.

 https://www.abc.net.au/cm/rimage/10726400-3x2-large.jpg?v=5

Namun menurut wakil ketua ACCC Delia Rickard dalam laporan tahunan berjudul "Targeting Scams", angka itu bisa lebih tinggi lagi.

"Kita tahu bahwa tidak semua mereka yang mengalami kerugian melaporkan ke lembaga pemerintah," kata Richard.

Salah satu bentuk penipuan yang memakan korban banyak tahun lalu dimana terjadi peningkatan 900 persen adalah jenis penipuan yang disebut "ATO scams".

 Baca juga: Pekerja Seks Minta Prostitusi Bisa Legal di Australia

ATO adalah kependekan dari Australian Tax Office, Kantor Pajak Australia.

Bentuk penipuan yang banyak memakan korban adalah warga menerima panggilan telepon dari suara seperti robot, yang meminta dengan nada mengancam agar mereka menelpon kembali.

"Bila kami tidak menerima telepon Anda, maka akan dikeluarkan perintah penahanan dan Anda akan ditahan," begitu kira-kira bunyi pesan tersebut.

Jenis telepon lain adalah telepon seolah-olah dari petugas ATO yang memberitahu korbanya bahwa mereka berhutang pajak yang besar.

Ketika menelpon, penipu mengatakan perintah penahanan sudah dikeluarkan, dan akan dibatalkan bila korban membeli voucher Apple iTunes seharga ribuan dolar, dan kemudian memberikan kode kepada penipu untuk bisa mencairkan uangnya.

 Baca juga: Turis Hong Kong Ditahan karena Pasang Kamera Tersembunyi di Toilet Perempuan

Nomor telepon yang digunakan seolah-olah berasal dari dalam Australia padahal sebenarnya dilakukan dari luar negeri.

"Di tahun 2018, ATO menerima 114.625 laporan mengenai orang yang mengaku dari ATO, dengan kerugian mencapai  2,8 juta dolar Australia (sekitar Rp 28 miliar)," demikian laporan ATO.

Namun penipuan model ATO ini semakin canggih tahun lalu, dengan korban diminta membayar lewat kartu Google Pay dan juga mata uang Bitcoin.

Menurut ATO, tahun lalu korban warga Australia membayar 732.917 dolar Australia lewat Bitcoin, USD647. 817 lewat kartu Google Play dan USD496.701 lewat kartu iTunes.

Baca juga: Remaja Egg Boy Terharu Tindakannya Telah Menyatukan Masyarakat Pasca-Tragedi di Selandia Baru

Peningkatan penipuan asmara dan investasi

Salah satu penipuan yang paling meningkat kejadiannya adalah penipuan berkedok asmara online.

Di tahun 2017 kerugian adalah 42 juta dolar Australia (sekitar Rp420 juta) namun di tahun 2018 naik menjadi 60.5 juta dolar Australia (sekitar Rp600 juta) naik 44 persen.

Para penipu ini biasan ya mencari korban lewat situs kencan online (termasuk Tinder), atau melalui media sosial termasuk Facebook dan Instagram.

"Mereka memainkan perasaan korban guna mendapatkan uang, hadiah dan detil personal," kata ACCC.

Namun penipuan yang paling banyak memakan korban adalah jenis penipuan investasi.

ACCC mencatat korban mengalami kerugian $AUD 86 juta, terjadi peningkatan 34 persen dari kerugian yang sama di tahun 2017.

"Cara yang paling banyak yang terjadi adalah para penipu ini menelpon korban secara random dan kemudian menawarkan investasi muluk, dan korban kemudian terjebak," kata ACCC.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini