(Baca Juga: Ketum PP Muhammadiyah: Saatnya Bersatu Hilangkan 01 dan 02)
Dijelaskan Mastuki, toleransi atau tenggang rasa (tepa selira) dalam bulan ramadan untuk meniscayakan dua pihak atau lebih dalam frekuensi yang sama untuk saling menghormati. Dimana, ada rasa saling menghormati bagi yang menjalankan puasa dan bukan beragama muslim.
"Bagi yang berpuasa perlu menenggang rasa orang yang tak berpuasa. Bagi muslim, ada banyak orang yang tak berpuasa karena kondisi yang mengharuskan ia boleh tak berpuasa. Misalnya pekerja kasar, ibu hamil dan menyusui, musafir, dan lain-lain. Di Indonesia juga banyak saudara kita non-muslim yang juga tak dikenakan kewajiban berpuasa," katanya.
"Tapi sebaliknya, yang tidak berpuasa juga wajib menghormati dan menenggang rasa saudaranya yang tengah berpuasa. Warung atau restoran yang biasanya buka siang hari, hendaklah menghormati saudaranya yang berpuasa. Caranya tentu kita punya wisdom masing-masing. Itulah makna tepa selitlra itu," tutur Mastuki.
(Angkasa Yudhistira)