2 Menteri Jokowi & Sederet Nama Beken Tumbang di Dapil Jabar VI

Fadel Prayoga, Jurnalis · Sabtu 11 Mei 2019 21:27 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 05 11 606 2054520 2-menteri-jokowi-sederet-nama-beken-tumbang-di-dapil-jabar-vi-XqlrDqzbqs.jpg Foto Ilustrasi Okezone

JAKARTA - Dua menteri Joko Widodo (Jokowi) dan sederet nama beken tumbang di Daerah Pemilihan (Dapil) "neraka" Jawa Barat VI. Hanya enam kursi di Dapil tersebut yang diperebutkan 96 caleg dari 16 partai politik.

Hasil Pleno KPUD Kota Bekasi dan Kota Depok, caleg yang berhasil menjadi anggota DPR RI Dapil Jabar VI, yaitu Intan Fauzi (PAN), Mahfudz Abdurrahman dan Nur Azizah (PKS), Nuroji (Gerindra), Wennh Haryanto (Golkar), Sukur Nababan (PDIP).

Pesohor yang gagal melenggang ke Senayan yakni, Lukman Hakim Saifuddin yang juga Menteri Agama (PPP), Hanif Dhakiri yang juga Menteri Ketenagakerjaan (PKB). Kemudian, Fauzi Badila (Gerindra), Angel Karamoy (PDIP), Lucky Hakim (Nasdem) dan Farhat Abas (PKB).

 sd

Menurut pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang Komarudin, banyaknya pesohor yang melaju ke Senayan harus menjadi warning bagi siapa pun yang ingin nyaleg. Yakni, harus lebih gencar lagi turun ke masyarakat.

“Kalau Pak Hanif dan Pak Lukman gagal, tidak terlalu mengejutkan. Namanya perjuangan, bisa kalah dan bisa menang. Tetapi ini menjadi refleksi dan evaluasi bagi siapapun caleg nanti,” ujarnya, Sabtu (11/5/2019).

Bila caleg siapa pun mereka baik pesohor atau bukan, kalau tidak turun ke masyarakat makan berisiko untuk tidak dipilih. Popularitas seorang caleg, kata Ujang, tidak menjamin elektabilitas para petahana di atas angin.

“Karena itu, ke depan, siapa pun yang jadi caleg, dia harus turun sejak awal agar dikenal masyarakat sehingga masyarakat merasakan jabatan yang mereka emban,” ujarnya.

“Selama caleg tidak turun, masyarakat tidak mengenal mereka walaupun incumbent,” imbuhnya.

 ss

Kegagalan Hanif dan Lukman, menurut a Ujang, karena mereka menggunakan cara lama dalam berkampanye. Mereka mengganggap Pileg 2019 sama dengan 2014, dan baru turun kampanye di ujung pemilu.

Makanya tak heran mereka yang lolos ke Senayan adalah caleg yang telah bergerilya sejak awal, meski mereka adalah pendatang baru.

“Caleg yang kampanyenya di ujung atau menjelang pemilu, mereka ini tidak siap menghadapi pileg. Biasanya incumbent atau caleg baru yang lolos ke Senayan itu adalah mereka turun 3 tahun sebelumnya,” katanya.

Turun ke masyarakat dan melakukan pendekatan emosional merupakan hal penting untuk dilakukan. Mengingat sistem pemilu yang tertutup, membuat pileg tenggelam dalam pemberitaan dibandingkan pilpres.

Hal tersebut berdampak masyarakat tak banyak mengenal caleg yang akhirnya mereka tak memiliki refrensi untuk memilih.

“Bisa jadi, caleg incumbent yang gagal ini tidak turun ke dapil sehingga masyarakat pun tidak pernah merasakan apa programnya,” katanya.

Terkait Hanif dan Lukman, Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) ini menilai, kalau saja keduanya memiliki investasi politik di dapil nya, keduanya berpeluang besar terpilih. Namun, ia menduga keduanya tak memiliki investasi politik, makanya gagal.

Ditambahkan Peneliti Senior Forum Pemantau Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus, persaingan di Dapil Jabar VI memang sangat ketat. Ia pun mengamini kalau keterpilihan seorang caleg juga ditentukan kedekatan emosional antar caleg dan pemilih, bukan sekadar populer.

“Jadi, bagi saya, gagalnya figur popular, artis atau pun menteri bukan fenomena baru. Pemilu 2014 lalu ada begitu banyak pesohor yang bertarung, tetapi hanya beberapa saja yang berhasil menuju Senayan,” katanya.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini