Arif tidak mengizinkan keluarganya menemani masa rehabilitasinya di Purbalingga. Ia minta ditinggal sendiri untuk memulihkan diri.
Suasana Desa Bungkanel yang tenteram dan alami amat membantu mempermudah proses penyembuhannya.
"Yang jelas, nyaman di sini saya, Mas."`
Dua kali gagal, dua kali bangkit
Nasib serupa tapi tak sama dialami Delianur, pria berusia 41 tahun asal Sukabumi, Jawa Barat, yang maju dalam pemilu legislatif tahun 2014 dan 2019. Tak satu pun dari kedua upayanya membuahkan hasil.
"Siap kalah aja," ujarnya tercengir saat ditemui di rumahnya di kawasan Soreang, Kabupaten Bandung.
Ayah dua anak itu pertama kali ditawari nyaleg langsung oleh ketua umum Partai Amanat Nasional kala itu, Hatta Rajasa. Ia tengah bekerja di Kementerian Koordinator Perekonomian tahun 2012 lalu - di mana Hatta menjabat sebagai menterinya - ketika tawaran itu disodorkan dua kali.
"Saya pulang ke Bandung, saya ngobrol, ketemu dengan beberapa orang teman saya, ketemu dengan istri saya, ceritakan semuanya, akhirnya mereka kemudian mendukung," tutur Delianur yang aktif berorganisasi semasa berkuliah.
Pada pencalegannya yang pertama itu, ia bertarung habis-habisan.

Delianur pertama kali maju nyaleg setelah diajak langsung oleh ketua umum PAN Hatta Rajasa tahun 2012 lalu, saat ia masih bekerja di Kementerian Koordinator Perekonomian, kementerian yang dipimpin Hatta kala itu
Duit lebih dari Rp2 miliar digelontorkan untuk membiayai berbagai kepentingan kampanye, mulai dari APK hingga ongkos tim sukses dan relawan. Waktu dan tenaganya tersita untuk turun ke lapangan dan menemui konstituennya di daerah pemilihan Kabupaten Bandung dan Bandung Barat, Jawa Barat.
Cita-citanya tak muluk kala itu - sebetulnya, sama seperti Arif - yaitu untuk membangun kampung halamannya.
"Kampung halaman saya di Cililin, Bandung, itu sama sekali tidak tersentuh pembangunan sama pemerintah," ungkapnya mengenang tahun 2012.
"Jalan rusak dan sebagainya, dan ketika saya ngobrol di sana, ya ini memang butuh ada semacam intervensi, butuh ada orang atas yang membantu."
Tapi apa mau dikata, suara yang terkumpul di hari pencoblosan nyatanya tak mencukupi bagi Delianur untuk duduk di kursi DPR RI, meski ia dan timnya sungguh yakin akan berhasil kala itu.
"(Kalah itu) enggak enak. Hahaha… Sakit hati," ujarnya berderai tawa.
Sebenarnya, saat mengetahui hasil buruk itu, ia bergegas mencari tahu di mana letak kekalahannya. Ia pergi ke Bawaslu, mengumpulkan formulir C1, menyambangi KPU.
"Kita telusuri, suara kita banyak dicuri. Itu pastilah enggak enak, sakit hati, marah-marah. Apalagi setelah kita tahu 'oh, orang ini nyuri (suara)', dan kita baru tahu 'oh, begini cara nyurinya itu'," aku Delianur.
Ia jelas kecewa, namun ia mengaku bisa menguasai diri. Menurutnya, hal itu - sebagiannya - berkat renungan yang ia lalui usai beribadah pada satu hari sebelum hari pemungutan suara.
Ia memikirkan akan seperti apa kehidupannya bila ia benar-benar terpilih jadi anggota DPR. Di luar dugaan, yang terbayang olehnya justru kerumitan tanggung jawabnya kelak: kewajiban melayani konstituen hingga berpuluh jam, mengurus partai, mengawasi pemerintah, mengawal proses legislasi, mengikuti berbagai rapat, hingga kehidupan pribadi keluarganya yang akan jadi sorotan publik.
Ia terhenyak, namun gagasan itulah yang mempersiapkannya untuk hasil terburuk.
"Ketika hari H pemilihan, saya tidak nongkrongin TPS atau posko," ujarnya. "Saya sepedaan ke Dago, menikmati (waktu), siap menerima apa kalah, apa menang, karena akan sama rumitnya antara kalah dan menang."
Hal yang hampir sama terjadi lima tahun kemudian, alias pada pileg tahun 2019 kemarin. Delianur kembali maju dan kembali kalah.
Bedanya, pada pileg 2019, ia maju dari daerah pemilihan Sukabumi. Selain itu, ia tak ngoyoamat untuk jadi anggota legislatif, karena motivasinya maju pun karena dorongan teman-temannya.
"Sejujurnya saya sudah tidak ada itikad untuk maju lagi. Saya maju itu pada detik-detik terakhir," jelasnya.
Lewat pengalaman sebelumnya, ia kali itu lebih mahir membaca dinamika sosial dan politik. Ia pun mengendus aroma negatif pencalegannya akan kandas seperti tahun 2014.
Alhasil, ia hanya mengeluarkan dana kurang dari Rp200 juta untuk percobaan keduanya. "Kita menjadi realistis."
Dan pada waktu diumumkan gagal, ia tak banyak ambil pusing.
"Relatif sebetulnya udah biasa aja kalah (saat) itu. Selain kita pernah kalah, kita juga sudah memprediksi bahwasanya kita bakal kalah," imbuhnya.
Dukungan keluarga
Nurjani Astianti, istri Delianur, hanya menanyakan ini saat suaminya pertama kali kalah: "Buya, enggak apa-apa? Berikutnya mau ngapain?"
Bagi Jani, panggilan akrab Nurjani, penting baginya untuk tahu apa yang akan dilakukan suaminya ke depan, "karena itu akan menjadi motivasi untuk bergerak, move on."
Jani bukannya tidak kecewa sang suami tak lolos ke parlemen, tapi ia tahu ada peran lebih penting yang harus ia mainkan ketika sang suami kalah bertarung.
"Saya lebih banyak menyediakan kuping aja untuk dengar," ujar Jani santai.
Cekcok kadang terjadi, apalagi kondisi finansial mereka jatuh setelah Delianur gagal. Mereka terpaksa menggadaikan mobil yang masih dicicil untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Akan tetapi, Jani dan sang suami mencoba mengisi masa-masa sulit itu dengan perbincangan mendalam dan menata ulang prioritas dan target hidup mereka berdua.
"Kalau tahu apa yang mau dilakukan ke depan, yuk disusun lagi," ujarnya.