Ketika kekalahan kedua mendarat di depan mata sebulan yang lalu, peran Jani tidak berubah. Ia tetap menjadi pendengar di kala sang suami terpuruk.
Tetapi kali ini mereka tak larut dalam kekecewaan. Keduanya sudah memasang garis antisipasi kalau-kalau - dan memang akhirnya terjadi - kalah kembali.
"Saya pun nanya ketika 2019, 'nyaleg lagi? Yakin? Udah siap kalau menang? Udah siap kalau gagal?' saya tanya itu," tutur Jani.
"Dan di 2019 sekarang saya merasakan bahwa mungkin yang dialami - kekecewaannya - tidak sebesar 2014, karena kita punya pengharapan lain yang lebih besar, ada prioritas lain."
Pengharapan itu adalah melanjutkan studi mereka di luar negeri dengan membawa serta anak-anak.
Sementara itu, Delianur bersyukur respons keluarganya tidak menyudutkannya ketika tahu ia gagal dan gagal lagi. Ia lega karena tidak diperlakukan sebagai "pesakitan hanya gara-gara kalah nyaleg".
"Istri saya ketika saya kalah itu, saya ingat betul, dia itu lebih memastikan kondisi psikologis saya, apakah saya down atau tidak," ungkap Delianur.
"Keluarga cukup kondusif. (Mereka) tidak menganggap kekalahan itu sebuah kehinaan," tuturnya.
Ia kemudian menyadari bahwa peran keluarganya dalam kondisi itu amatlah penting. Sang istri, ibunda, ibu mertuanya, hingga saudara kandung maupun ipar tidak menuntut apa pun atau larut dalam kekecewaan. Padahal, berbagai bantuan juga diberikan oleh mereka.
"Istri memang perannya sangat vital, keluarga sangat vital, tetapi harus diingat, walaupun mereka punya peran sangat vital, tapi jangan menumpahkan semua masalah itu ke dia," imbuhnya.
Menurut Jani, akan ada banyak alasan untuk tenggelam dalam keterpurukan ketika sang suami gagal melaju ke parlemen. Akan tetapi, mereka punya alasan kuat untuk segera bangkit setiap mereka jatuh.
"Di sekeliling kami itu masih banyak yang perlu kami syukuri daripada kami sesali," katanya.
Pendampingan menjadi kunci penyembuhan
Psikiater di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Doktor Cipto Mangunkusumo (RSCM), dokter Hervita Diatri, mengatakan bahwa gejala stres sesungguhnya merupakan respons normal yang sering dialami manusia.
"Sangat wajar ketika kita pengin lulus, terus kita enggak lulus, kita merasa sedih, kita merasa kecewa, itu kan biasa saja," tutur Hervita kepada BBC News Indonesia.
Hal ini berlaku pula bagi para caleg yang gagal lolos ke parlemen. Respons stres menjadi hal yang wajar mereka alami.
Menurutnya, stres sesungguhnya bisa diatasi oleh individu masing-masing.
"Stres seharusnya dapat diatasi sendiri oleh yang bersangkutan maupun bantuan dari lingkungan sekitar."
Akan tetapi, ketika kondisinya semakin parah, stres bisa berubah menjadi suatu gangguan jiwa. Salah satu tandanya, individu tersebut tak mampu mengatasi sendiri stres yang ia alami dan membutuhkan bantuan dari pihak selain sistem pendukung (support system) yang ada.
"Ketika kondisi stres itu menjadi berlebihan, mengganggu fungsinya dia sehari-hari, menyebabkan penderitaan yang begitu mendalam untuk dia maupun keluarganya, maka kita sudah masuk area gangguan jiwa," tutur Hervita.
Mengamuk menjadi salah satu gejala gangguan jiwa yang bisa berawal dari stres. Ketika hal itu terjadi, pendampingan, terutama dari pihak ketiga, sangat diperlukan untuk memulihkan kondisi kejiwaannya.
"Mau pendampingan spiritual, mau keagamaan, pokoknya pendampingan," tuturnya.
Menurut Hervita, pada kelompok itu, 90% di antaranya sembuh setelah mereka mengeluarkan perasaan mereka alias curhat selama masa pendampingan itu.
"Jadi betul-betul dia hanya mengeluarkan semua perasaannya, semua pikirannya, apapun dengan bebas, tanpa merasa dihakimi," imbuhnya.
Menurutnya, keberadaan panti-panti rehabilitasi yang melayani para caleg gagal bisa membantu proses penyembuhan itu.
"Karena terus ada tempat dia untuk curhat, boleh ngeluarin apa pun."
Harapan usai gagal
Setelah gagal di percobaan pertama, Arif langsung kapok. Ia tak mau lagi mempertaruhkan segalanya untuk menduduki jabatan sebagai anggota dewan.
"Nggak mau nyaleg (lagi) saya. Mau kerja aja, mau bisnis," imbuh Arif pelan.
Ia berencana akan menebus sertifikat usaha SPBN yang ia gadaikan ke bank. Ia ingin kembali ke keluarganya setelah bisa menerima kekalahan.
"Kalau sudah sembuh total saya mau pulang," ungkapnya.
Berbeda dengan Arif, Delianur tidak menutup pintu pencalegan untuk ketiga kalinya. Meski dua kali gagal dan harta terkuras banyak, ia masih punya sedikit asa di sana.
"Saya belum kepikiran lagi, saya masih berhitung-hitung," ujarnya.
Sang istri, Jani, pun akan mendampingi upaya sang suami bila jadi nyaleg lagi.
"Kita kan sepakat dari awal bahwa kita akan membangun keluarga ini atas dasar kompetensi. Ketika misalnya ini belum takdirnya nih 2014, siapa tahu ada takdir di tahun-tahun berikutnya, ya kompetensi itu sudah siap, tidak harus dadakan," ujarnya.
Yang jelas, Delianur tahu apa apa yang harus ia siapkan seandainya pilihan itu benar-benar ia jalani.
"Siap kalah aja. Hahaha..."
(Qur'anul Hidayat)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.