nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Korban Gempa Halmahera Selatan Butuh Makanan, Minuman dan Air Bersih

Fetra Hariandja, Jurnalis · Rabu 17 Juli 2019 19:48 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 07 17 340 2080272 korban-gempa-halmahera-selatan-butuh-makanan-minuman-dan-air-bersih-TOZgoh12Ik.jpg Korban gempa Halmahera Selatan (Foto: Ist)

TERNATE – Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) bersama LazisMu telah mendirikan pos komando tanggap darurat melalui MDMC Maluku Utara. Pos komando tanggap darurat tersebut berlokasi di Jalan Delima Nomor 75 Kelurahan Toboko Kota Ternate.

Pembentukan pos komando diketuai oleh Didik Kurniyawan selaku Ketua Pos Komando Tanggap Darurat Ternate. Saat ini, perkembangan pos komando sampai di pemetaan wilayah bencana menggunakan peta geografis sederhana. Pemetaan wilayah tersebut berguna untuk mengetahui jalur mana yang bisa diakses menuju lokasi bencana, sehingga dapat memudahkan untuk pendistribusian logistik dan lain-lain.

Baca Juga: Polri Imbau Pemda Aktif Tangani Dampak Gempa di Halmahera Selatan 

Gempa Halmahera Selatan

Berdasarkan laporan dari MDMC Maluku Utara, kebutuhan warga yang paling mendesak saat ini ialah makanan dan minuman, tempat pengungsian sementara, seperti terpal, alat mandi dan air bersih. Adapun laporannya salah satu desa, yaitu Desa Dowora, Tidore Timur, Kota Tidore tidak memiliki sumber air bersih untuk dikonsumsi, untuk kondisi normal mereka harus mengambil air di Halmahera, sumber air yang mereka miliki hanya air danau yang tidak layak dan sedikit payau.

Saat dihubungi MDMC, Didik menerangkan bahwa mereka telah mengirimkan 4 orang tim asistensi di lokasi bencana untuk mendata info terkait kebutuhan dan potensi yang ada disana. Pendataan tersebut sedikit mengalami kelambatan karena sulitnya akses menuju lokasi, seperti di Kecamatan Gane yang rata – rata merupakan wilayah pesisir dengan tingkat kerusakan yang bermacam – macam akibat gempa.

Sehingga masih banyak jalan yang sulit untuk dijangkau “Karena lokasi bencana berbeda – beda tempat, ada yang di pulau ada yang di pesisir,” ujarnya melalui keterangan tertulisnya.

Kesulitan mengakses lokasi terdampak gempa juga dirasakan oleh tim asistensi yang berada di sana. Pada Selasa 16 Juli tim asistensi menuju ke lokasi bencana harus memilih menggunakan transportasi laut. Untuk menuju lokasi ada 3 pilihan jalur, yaitu jalur laut, udara, dan darat.

“Karena letak geografis agak jauh jadi kami gunakan laut. Kalau darat bisa 12 jam, sedangkan laut hanya sekitar 8 jam,” ujar Didik saat itu.

Baca Juga: BNPB: Korban Meninggal Gempa Halmahera Selatan Bertambah Jadi 6 Orang 

Korban gempa Halmahera Selatan

Melihat kesulitan dalam pengaksesan jalan tersebut, maka MDMC Maluku Utara selain membuat pemetaan wilayah mereka juga mengupayakan SDM terkait relawan, tim medis, dan SAR untuk diturunkan ke lokasi bencana.

Mereka juga menghimpun dan mengkoordinasikan penggalangan dana dengan Ortom Muhammadiyah, Lembaga Pemerintah, seperti BDBD, mahasiswa dan warga setempat untuk ikut serta mebantu menggalang dana “Bahkan siswa – siswa sekolah berbondong – bondong ikut menggalang dana. Kami gerakkan penggalangan dana banyak – banyak. Jika hasil asesment sudah ada dan memungkinkan kita untuk membuka pos pelayanan maka kami sudah siap,” tutup Didik.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini