nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Polemik Dibongkarnya Bambu Getah Getih, Anies: Uangnya untuk Petani, Bukan ke Tiongkok!

Fadel Prayoga, Jurnalis · Jum'at 19 Juli 2019 17:06 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 07 19 338 2081097 polemik-dibongkarnya-bambu-getah-getih-anies-uangnya-untuk-petani-bukan-ke-tiongkok-H1DNUzhlIR.jpg Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan (foto: Fadel/Okezone)

JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan angkat bicara ihwal dibongkarnya instalasi bambu getah getih, di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat. Ia menyatakan, penggunaan anggaran sebesar Rp550 juta itu sudah benar, yakni untuk mensejahterakan petani dan pengrajin bambu.

Menurut dia, bila pihaknya memutuskan membuat karya seni yang terbuat dari beton atau besi, maka bahan bakunya akan impor. Kata dia, tak menutup kemungkinan, barang-barang berasal dari negara Tiongkok.

"Anggaran itu ke mana perginya? perginya ke petani bambu. Uang itu diterima oleh rakyat kecil. Kalau saya memilih besi, maka itu impor dari Tiongkok mungkin besinya. Uangnya justru tidak ke rakyat kecil. Tapi kalau ini, justru Rp550 juta itu diterima siapa? Petani bambu, pengrajin bambu," kata Anies di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (19/7/2019).

 Baca juga: Bambu Getah Getih Dibongkar, Fraksi Gerindra DKI: Perencanaan Jangan Asal-asalan

Getah Getih

Anies mengatakan, bila menggunakan Bambu maka semua bahan dasar pembuatan getah getih ini bukan barang impor produk negara luar. Sehingga, masyarakat pun dapat merasakan uang dari negara sendiri.

"Besi belum tentu produksi itu produksi dalam negeri. Tapi kalau bambu hampir saya pastikan tidak ada bambu impor, bambunya produksi Jawa Barat dikerjakannya oleh petani oleh pengrajin lokal. Jadi angka yang kemarin kita keluarkan diterimanya oleh rakyat kebanyakan," ujarnya.

 Baca juga: Bambu Getah Getih Dibongkar, Fraksi PDIP DKI: Mubazir!

Mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu menjelaskan, dari awal dirinya sudah menyampaikan bahwa anyaman bambu karya Joko Avianto itu memang tak bertahan lama, meski menelan anggaran setengah miliar rupiah.

"Ya dari awal sudah saya garis bawahi bahwa kita menggunakan material lokal bambu. Pada waktu itu malah saya katakan diperkirakan usianya enam bulan," pungkasnya.

 Bambu Getah Getih

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini