nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Demonstran dan Polisi Hong Kong Kembali Bentrok di Sejumlah Lokasi

Senin 12 Agustus 2019 08:04 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 08 12 18 2090696 demonstran-dan-polisi-hong-kong-kembali-bentrok-di-sejumlah-lokasi-Kg9qk4aSrX.jpg Unjuk rasa di Hong Kong. (Foto: Getty Images)

KEPOLISIAN Hong Kong kembali bentrok dengan pengunjuk rasa pro-demokrasi dalam "aksi kucing-kucingan" di sejumlah lokasi. Di Distrik Wan Chai, terjadi aksi melempar bom molotov ketika polisi melepaskan tembakan gas air mata secara bertubi-tubi. Sejumlah orang, termasuk polisi, terluka dalam bentrokan tersebut.

Mengutip dari BBC News Indonesia, Senin (12/8/2019), polisi juga terekam menembakkan peluru karet dalam jarak dekat di stasiun kereta bawah tanah, sementara aparat lain terlihat memukuli demonstran dengan pegangan eskalator.

Demonstrasi berkepanjangan yang dipicu RUU Ekstradisi yang kontroversial itu tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Kedua belah pihak mengukuhkan sikapnya.

Meskipun pemerintah sekarang telah menangguhkan RUU tersebut, yang akan memungkinkan ekstradisi ke daratan China, para demonstran ingin sepenuhnya ditarik.

Tuntutan mereka meluas, termasuk seruan untuk penyelidikan independen terhadap dugaan kebrutalan polisi, dan agar pemimpin Hong Kong Carrie Lam mengundurkan diri.

Apa yang Baru Saja Terjadi?

Pada Minggu 11 Agustus 2019 sore, sebuah unjuk rasa damai di Victoria Park memicu bentrokan ketika demonstran pindah dari lokasi tersebut dan berbaris di sepanjang jalan utama meskipun ada larangan polisi.

Ada konfrontasi di beberapa lokasi dan polisi menggunakan peluru karet dalam upaya untuk membubarkan para demonstran.

Gas air mata ditembakkan di distrik perbelanjaan Tsim Sha Tsui yang sibuk serta di Wan Chai di Pulau Hong Kong.

Satu gambar yang dibagikan secara luas di media sosial menunjukkan seorang perempuan, yang dilaporkan terkena proyektil polisi, mengeluarkan banyak darah dari matanya.

Seorang wartawan BBC, Stephen McDonell, yang meliput peristiwa itu melaporkan kelompok demonstran mengadopsi taktik baru dengan cara beraksi dalam jumlah kecil di banyak tempat. Mereka kemudian lari ketika polisi datang. Sementara polisi buru-buru menangkapi mereka.

Gas air mata juga ditembakkan ke stasiun metro di Kwai Fong. Media setempat melaporkan bahwa ini adalah pertama kalinya polisi menembakkan gas air mata ke stasiun metro untuk membubarkan orang.

Video lain yang muncul di media sosial menunjukkan polisi berduyun-duyun ke stasiun kereta bawah tanah dan menembaki demonstran pada jarak dekat. Beberapa petugas juga terekam sedang mengejar dan memukuli orang-orang dengan pegangan eskalator.

Unjuk rasa di Hong Kong. (Foto: Reuters)

Media lokal melaporkan bahwa terduga petugas polisi yang menyamar sebagai pengunjuk rasa melakukan penangkapan tiba-tiba pada Minggu malam.

Di tempat lain, dua bom molotov dilemparkan ke polisi dan setidaknya satu petugas menderita luka bakar.

Di Bandara Hong Kong terjadi pula demonstrasi yang diikuti oleh ratusan orang. Mereka menggelar aksi duduk secara tertib.

Demonstrasi menentang pemerintah telah memasuki pekan kesepuluh di wilayah semi-otonomi tersebut. China menuding adanya penghasut dan campur tangan asing.

Mengapa Ada Unjuk Rasa di Hong Kong?

Demonstrasi dimulai dua bulan lalu sebagai perlawanan terhadap RUU Ekstradisi yang diusulkan, yang akan memungkinkan tersangka penjahat dikirim ke Cina daratan untuk diadili.

Para kritikus mengatakan itu akan merusak kebebasan hukum Hong Kong, dan dapat digunakan untuk membungkam para pengkritik pemerintah.

Polisi kemudian dituduh menggunakan kekerasan terhadap pengunjuk rasa.

Unjuk rasa di Hong Kong. (Foto: Reuters)

Meskipun pihak berwenang Hong Kong setuju untuk menunda RUU tersebut, demonstrasi berlanjut, dengan seruan agar RUU itu ditarik sepenuhnya.

Hong Kong sendiri adalah bagian dari China, tetapi warganya memiliki otonomi lebih banyak daripada di daratan.

Wilayah semi-otonomi ini memiliki kebebasan pers dan independensi peradilan di bawah apa yang disebut pendekatan "satu negara, dua sistem", kebebasan yang dikhawatirkan oleh para aktivis semakin terkikis.

Mereka juga menyerukan penyelidikan independen terhadap dugaan kebrutalan polisi selama unjuk rasa dan pengunduran diri pemimpin Hong Kong Carrie Lam.

1
3

Berita Terkait

Protes Hong Kong

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini