Titik Kumpul Menampung Pengungsi Ribuan Jiwa
Daerah RT 16 RW 04 kelurahan Padang Serai kecamatan Kampung Melayu kota Bengkulu menjadi kawasan titik kumpul ketika terjadi bencana gempa berdampak tsunami. Tidak hanya, masyarakat se-kelurahan Padang Serai.
Namun, masyarakat dari desa Arau Bintang dan Riak Siabun Kabupaten Seluma serta masyarakat kelurahan Teluk Sepang juga mengungsi ke RT 16. Di mana daerah ini memiliki ketinggian 13 meter dari permukaan laut (Mdpl).
Senin 8 Agustus 2019. Cuaca di Kota Bengkulu, cerah berawan. Termasuk di kelurahan Padang Serai kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu. RT 16 RW 04, tepatnya. Masyarakat di daerah ini sibuk beraktivitas. Pergi ke kebun, misalnya.
Daerah yang berada diujung kelurahan Padang Serai ini terdapat satu lokasi titik kumpul. Lapangan sepak bola RT 16 Rw 04, lokasinya. Tak jauh dari lokasi lapangan titik kumpul, berdiri sebuah bangunan rumah permanen.
Rumah itu dihuni Ketua RT 16 RW 04 kelurahan Padang Serai kecamatan Kampung Melayu kota Bengkulu, Suyanto (50), beserta istri dan anaknya. Berjarak sekira 20 meter dari rumah itu terdapat jalur evakuasi bencana. Baru selesai dibangun prajurit TNI-AD.

Progam TMMD ke 105, Kodim 0407/Bengkulu. Jalan evakuasi dengan lebar badan jalan 8 meter itu di bangun sejak 10 Juli 2019 hingga 8 Agustus 2019. Panjangnya mencapai 1,4 KM, nyaris 1,5 KM dalam bentuk batu koral yang sudah dipadatkan.
Pagi itu, Suyanto sedang duduk diteras rumahnya, santai. Di atas kursi yang terbuat dari kayu, memanjang. Didepannya terdapat satu buah meja berukuran 1x2,5 meter. Dia mengenakan baju kaos berkerah dengan perpaduan berbagai warna gelap.
Pria kelahiran 50 tahun silam itu masih ingat betul kejadian bencana yang menerjang Bengkulu, gempa berpotensi tsunami. Pada tahun 2003, 2007 dan 2010.
Pria yang sudah dipercaya menjabat lima periode ketua RT ini mengulas, saat terjadi bencana gempa di RT 16 menjadi kawasan titik kumpul masyarakat dari berbagai kelurahan di kecamatan Kampung Melayu.
Pada Rabu 12 September 2007, gempa dengan kekuatan Mw=8,4 menerjang Bengkulu. Waktu itu warga RT 1 hingga 21 kelurahan Padang Serai kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu, mengungsi ke RT yang dia pimpin ini.
Tidak hanya itu, masyarakat dari desa Arau Bintang dan Riak Siabun Kabupaten Seluma serta masyarakat kelurahan Teluk Sepang kecamatan Kampung Melayu juga mengungsi ke RT 16.
Saat terjadi bencana 2007, salah satu ibu rumah tangga (IRT) kelurahan Padang Serai, sempat kehilangan anak dalam kandungannya. Di mana saat itu IRT tersebut sedang dalam keadaan hamil tua.
Anak dalam kandungan ibu hamil itu meninggal dunia ketika ingin di evakuasi ke titik kumpul. Di mana pada tahun itu jalan evakuasi sangat buruk untuk dilewati sehingga mengorbankan anak dalam kandungan ibu hamil.

''Saya ingat ada ibu-ibu hamil tua, anak dalam kandungannya meninggal saat di evakuasi ke titik kumpul. Waktu itu jalan evakuasi masih buruk dan tidak layak untuk di lintasi. Kejadiannya waktu gempa 2007 lalu,'' cerita pria berkulit gelap ini kepada okezone.
Suyanto juga ingat ketika di RT 16, dijadikan lokasi tempat pengungsian ketika bencana gempa 2010, dengan kekuatan Mw=7,7. Pada tahun itu juga terdapat korban jiwa. Salah satu IRT dari Arau Bintang kabupaten Seluma, yang sedang hamil tua.
IRT itu kehilangan anak dalam kandungannya. Ketika di evakuasi di jalur evakuasi dengan jalan yang masih dalam keadaan buruk. Saat itu IRT tersebut terjatuh. Sehingga anak dalam kandungannya meninggal dunia.
Jalur evakuasi merupakan salah satu sarana yang sangat penting bagi masyarakat ketika terjadi bencana alam, gempa bumi berpotensi tsunami.
Pria berambut pendek ini mengatakan, pembukaan jalur evakuasi di RT 16 merupakan salah satu upaya untuk memperlancar sarana masyarakat dari berbagai kelurahan. Terutama ketika terjadi bencana, jalur evakuasi sudah ada dan dalam keadaan siap.
Di RT 16, kata Suyanto, dihuni 62 kepala keluarga (KK). Sementara se kelurahan Padang Serai kecamatan Kampung Melayu didiami oleh sekira 4.000 jiwa, yang tersebar di RT 1 hingga RT 21 RW 04.
''Jalur evakuasi bencana melalui TMMD ke 105 ini, sangat mendukung ketika terjadi bencana. Tentu, jalur ini dapat menyelamatkan jiwa masyarakat yang ingin mengungsi ke titik kumpul di RT 16,'' terang Suyanto.
Di RT ini juga telah disiapkan peralatan dan perlengkapan ketika terjadi bencana alam, gempa. Mulai dari tenda posko, tenda pengungsian, alat masak, slipingbad. Peralatan tersebut disiapkan di rumah ketua RT 16, dalam keadaan standby.
Selain memiliki lahan titik kumpul berupa lapangan sepak bola. Suyanto mengatakan, di daerahnya juga dapat dijadikan lokasi pengungsian warga yang mampu menampung 4.000 warga. Bahkan, lebih.
Di mana luas lahan untuk pengungsian itu tidak kurang dari 10 hektare (Ha). Lahan itu dengan memanfaatkan areal perkarangan warga setempat.
''Kami juga sudah ada peralatan dan perlengkapan pengungsian. Tenda posko, tenda pengungsian, alat masak, selimut, slipingbad. Peralatan itu siap digunakan ketika terjadi bencana alam. Itu bantuan dari kementerian sosial,'' kata dia, sembari menunjukkan peralatan dan perlengkapan di samping rumahnya.