Intensity Meter Dipasang di 15 Titik di Bengkulu
Kerawanan gempa berpotensi memicu gelombang tsunami di Bengkulu, BMKG Pusat, BMKG Kepahiang Bengkulu dibantu teknisi dari PT Bita Enarcon Engineering memasang 15 unit Intensity Meter di 15 titik di Kota Bengkulu.
Alat yang digunakan untuk mengetahui intensitas gempa bumi dan untuk mengukur tingkat kerusakan, akibat gempa bumi dalam satuan Modified Mercalli Intensity (MMI) tersebut merupakan bantuan hibah dari pemerintah Jepang melalui JICA.
Kepala Bidang Seismologi Teknik BMKG Pusat, Dadang Permana mengatakan, alat untuk mendeteksi tingkat guncangan gempa skala MMI. Dari I MMI hingga XII MMI. Di mana saat gempa terjadi Intensity Meter langsung terkoneksi secara langsung dan akan terlihat di alat digitizer pada Intensity Meter yang sebelumnya telah terpadang di daerah-daerah.
Di digitizer pada Intensity Meter akan muncul skala intensitas, I-II MMI getaran tidak dirasakan atau dirasakan hanya oleh beberapa orang tetapi terekam oleh alat. Di digitizer akan muncul warna putih.
Sementara jika pada digitizer pada Intensity Meter berwarna hijau atau III-V MMI getaran gempa dirasakan oleh orang banyak tetapi tidak menimbulkan kerusakan. Benda-benda ringan yang digantung bergoyang dan jendela kaca bergetar.
Kemudian, jika warna kuning muncul di alat digitizer pada Intensity Mete atau VI MMI, bagian non struktur bangunan mengalami kerusakan ringan, seperti retak rambut pada dinding, genteng bergeser ke bawah dan sebagian berjatuhan.
Lalu, VII - VIII MMI atau muncul berwarna jingga di alat digitizer pada Intensity Meter, gempa yang terjadi menyebabkan banyak retakan terjadi pada dinding bangunan sederhana, sebagian roboh, kaca pecah. Sebagian plester dinding lepas. Hampir sebagian besar genteng bergeser ke bawah atau jatuh. Struktur bangunan mengalami kerusakan ringan sampai sedang.
Selanjutnya, jika di alat digitizer pada Intensity Meter berwarna merah atau IX-XII MMI, getaran gempa tersebut menyebabkan sebagian besar dinding bangunan permanen roboh. Struktur bangunan mengalami kerusakan berat, rel kereta api melengkung.
''Getaran gempa yang terjadi akan terekam di alat digitizer pada Intensity Meter,'' kata Dadang.
Alat digitizer pada Intensity Meter di Kota Bengkulu, sampai Dadang, langsung masuk ke server BMKG Pusat dalam hitungan menit. Selain itu, laporan alat digitizer pada Intensity Meter yang terkoneksi akan terlihat tingkat guncangan gempa yang terjadi di Bengkulu.
Sehingga peta tingkat guncangan shakemap secara otomatis akan masuk selama 20 menit. Peta itu, jelas Dadang, akan melihat kerusakan dampak gempa parah. Dari peta itu BMKG akan menyampaikan ke BNPB, BPBD Provinsi, BPBD kabupaten dan kota tingkat kerusakan terparah di daerah yang terdampak gempa.
''Tujuannya agar di respon cepat BNPB, BPBD provinsi, kabupaten dan kota daerah yang terdampak gempa. Peta kerusakan itu kalau berat akan berwarna merah, jika berwarna kuning rusak ringan, warna jingga rusak sedang,'' jelas Dadang.
''Dengan adanya peta tersebut maka dari BPBD bisa mengambil keputusan cepat untuk men gambil tindakan,'' tambah Dadang.
Intensity Meter, sampai Dadang, tidak hanya mencatat getaran gempa yang terjadi di daerah di Bengkulu. Namun, getaran gempa yang berlokasi atau berpusat di Aceh, Padang Sumatera Barat hingga Lampung pun bisa terdeteksi oleh alat intensity meter yang terpadang di 15 titik di Kota Bengkulu.
''Hanya saja tingkat guncangan gempa yang berlokasi di provinsi lainnya skala MMI yang dirasakan di Bengkulu tidak begitu terasa atau besar. Tapi, intensity meter tetap merekam dan mencatat,'' ujar Dadang.