Setelah tiba di lokasi, lanjut Dony, sambil istirahat mereka melaksanakan pembersihan disekitar Patok Perbatasan MM.1.
"Kami tiba sekitar pukul 11:45 WIT , sehingga sambil menunggu tiba waktu shalat dzuhur, melaksanakan pembersihan sekitar patok," tuturnya.
Menurut Dony, keindahan alam di sekitar Patok Perbatasan yang berada di tepi laut itu, mampu mengobati rasa letih dan lelah yang mereka rasakan.
"Saat perjalanan untuk kembali ke Kotis, sekitar 300 meter kami menemukan patok perbatasan peninggalan Belanda dan Australia yang berada di lereng tebing yang curam yang berhadapan dengan laut Pasifik," kata Dony.
Dikarenakan patok itu tidak menjadi tanggungjawab dan tidak terdata dalam data Satgas, maka temuan tersebut segera di laporkan ke pimpinan mereka yaitu Kodam XVII/Cen dan Korem 172/PWY.
"Patok tersebut dibuat oleh negara Belanda dan Australia pada tahun 1930, yang digunakan sebagai batas wilayah pendudukan dua negara tersebut. Saat ditemukan, Patok yang diukur dengan metode astronomis itu, meski ditemukan dalam kondisi baik, namun brastablet-nya telah hilang," tutur Dony.
"Untuk itu, kita plot dan diperoleh menggunakan koordinat UTM 499919.866 - 9712092.920. Selanjutnya, sebagai kelengkapan data telah kami dokumentasikan juga foto maupun video sebagai bahan laporkan ke Komando Atas," pungkasnya.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.