nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Berbicara soal Pemakzulan, Trump Sebut Akan Ada Perang Saudara di AS

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Senin 30 September 2019 21:08 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 09 30 18 2111219 berbicara-soal-pemakzulan-trump-sebut-akan-ada-perang-saudara-di-as-h9YojOZAqH.jpg Donald Trump. (Foto: Reuters)

WASHINGTON - Presiden AS Trump pada Minggu mencuit kutipan dari seorang pendeta yang mengatakan bahwa pemakzulannya bisa menyebabkan perang saudara.

Trump mengutip Pastor Robert Jeffress, yang muncul dalam program TV di Fox & Friends Fox News Channel.

Jeffress adalah seorang pendukung setia Trump, serta pendeta pendeta dari Gereja First Baptist di Dallas.

Foto/Twitter

Gereja, yang jumlah jemaatnya 13.000, dianggap sebagai salah satu yang sangat berpengaruh dalam komunitas evangelis Amerika.

"Nancy Pelosi [Ketua DPR AS] dan [Partai] Demokrat tidak dapat melakukan pemakzulan," kata Jeffress kepada Fox News.

Baca juga: Trump Minta Presiden Ukraina Selidiki Capres Partai Demokrat

Baca juga: Presiden Ukraina: Saya Tak Mau Campuri Pemilu AS

"Mereka [Demokrat] tahu mereka tidak bisa mengalahkan [trump] pada 2016 dengan Hillary Clinton, dan mereka semakin menyadari bahwa mereka tidak akan menang melawannya pada [Pilpres AS] 2020, dan pemakzulan adalah satu-satunya alat yang mereka miliki untuk menyingkirkan Donald J. Trump,” tutur Jeffress.

Ketika ditanya tentang reaksi dari orang Kristen evangelis terhadap kemungkinan penyelidikan pemakzulan terhadap Trump, Jeffress menjawab, “Saya tidak pernah melihat orang Kristen evangelis marah atas masalah apa pun daripada upaya untuk secara tidak sah manjatuhkan presiden dari jabatannya.”

"Jika Demokrat berhasil melengserkan Presiden dari jabatannya , itu akan menyebabkan perang saudara di negara ini dan negara tidak akan kembali seperti semula," ujar Jeffress.

Awal pemakzulan Trump bermula dari Partai Demokrat yang meminta diluncurkannya penyelidikan aas dugaan Trump berupaya meminta bantuan asing untuk melakukan kampanye hitam terhadap calon presiden Partai Demokrat, Joe Biden.

Dugaan terbaru terhadap Trump itu muncul menyusul laporan bahwa dia telah menekan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy dalam percakapan di telepon pada 25 Juli untuk menyelidiki Biden dan putranya Hunter, yang bekerja di sebuah perusahaan yang sedang melakukan pengeboran gas di Ukraina.

Trump dituduh menahan dana bantuan AS ke Ukraina sebesar hampir USD400 juta untuk menekan Zelenskiy melakukan penyelidikan itu.

Ketua DPR AS, Nancy Pelosi mengumumkan peluncuran penyelidikan tersebut setelah pertemuan tertutup dengan anggota parlemen Partai Demokrat. Dia mengatakan bahwa tindakan Trump itu merusak keamanan nasional dan melanggar Konstitusi AS. (fzy)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini