nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Warga Resahkan Gudang Penyimpanan Bahan Peledak di Proyek Waduk Jlantah

Bramantyo, Jurnalis · Senin 14 Oktober 2019 23:30 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 10 14 512 2116876 warga-resahkan-gudang-penyimpanan-bahan-peledak-di-proyek-waduk-jlantah-YZn30W0wFc.jpg Pembangunan waduk Jlantah (Foto: Bramantyo)

KARANGANYAR - Pembangunan Waduk Jlantah yang terletak di dua desa, yaitu Desa Tlobo dan Desa Karangsari, Jatiyoso, Karanganyar seluas 1.960.000 meter persegi membuat resah warga sekitar.

Keresahan itu bukan karena pembangunan waduk. Namun, keresahan itu timbul disebabkan belum ada sosialisasi menyangkut gudang penyimpanan bahan peledak (Handak) di proyek yang dibiayai dari APBN ini.

Warga Tlobo takut, kejadian ledakan di Cihandeuleum Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat bisa menimpa mereka.

Kepala Desa Tlobo, Jatiyoso, Karanganyar Heri mengatakan untuk lokasi penyimpanan bahan peledak di proyek pembangunan waduk Jlantah itu belum ada sosialisasi menyangkut gudang penyimpanan bahan peledak.

"Benar, belum ada (sosialisasi) lokasi penyimpanan bahan peledak di proyek pembangunan waduk itu," ujar Heri saat dikonfirmasi Okezone melalui telefon, Senin (14/10/2019).

Baca Juga: Masih Ada Bahan Peledak di Reruntuhan Gudang Bom Mako Brimob Semarang 

Menurut Heri, selain belum disosialisasikan lokasi yang akan dijadikan gudang penyimpanan bahan peledak, status lahan yang akan digunakan ini pun masih dalam status sewa.

Pembangunan Waduk 

Di mana, lahan disewa dari pemilik lahan telah disewa oleh pihak pengerjaan proyek PT Waskita Karya seharga satu kali masa panen, atau sebesar Rp4 juta sampai Rp12 juta.

"Luasnya (untuk gudang penyimpanan bahan peledak) 5000 meter. Baru disewa belum ganti untung. Harga sewanya itu satu kali masa panen atau Rp4 juta sampai Rp12 juta," ujar Heri.

Sedangkan untuk ganti untung para pemilik lahan dan tanah yang terkena proyek tersebut, Heri pun mengaku juga belum mengwtahuinya.

Baca Juga: Ledakan di Mako Brimob Semarang, Sakit Jantung Pria Ini Kambuh

Selaku Kepala Desa, dirinya sudah menanyakan berapa ganti untung akan diterima warga. Namun baik PT Waskita maupun Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) sendiri juga belum mengetahuinya.

Kemungkinan, ungkap Heri, ganti untung pada warga nilainya sama dengan ganti untung proyek pembangunan waduk Gondang. "Mungkin ganti untungnya sama dengan ganti untung proyek pembangunan waduk Gondang," ujarnya.

Terpisah, Sekretaris Sekber NGO Karanganyar Kiswadi Agus mengatakan aneh bila ganti untung lokasi pembangunan waduk dan gudang penyimpanan bahan peledak belum jelas namun proyek sudah dikerjakan.

Termasuk lokasi di mana bahan peledak proyek itu disimpan juga belum disosialisasikan. Menurut Agus, warga berhak mengetahui di mana bahan peledak itu disimpan. "Aneh saja, proyek sekelas nasional ini ganti untung belum jelas, tapi proyek sudah dikerjakan," ujar Agus.

Tak hanya ganti untung lahan, kompensasi, warga pun, ujar Agus, berhak mendapatkan kompensasi dari polusi udara dan suara dari blasting (peledakan) serta debu-debu yang dihasilkan dari alat berat proyek yang setiap harinya keluar masuk proyek.

"Kerusakan jalan, kerusakan pipa air minum juga harus ada kompensasi, jangan sampai tidak ada kompensasi. Dan ini harus jelas," ujarnya.

Sementara itu, pelaksanaan proyek PT Waskita Karya Heri saat dikonfirmasi Okezone menolak untuk menjelaskan. Penjelasan didapat okezone dari salah satu staf proyek yang saat itu mendampingi Hari, pelaksana proyek.

Menurut staf yang enggan menyebutkan namanya itu mengatakan untuk lokasi di mana gudang penyimpanan bahan peledak proyek belum ditentukan titiknya. Menurutnya, yang berhak menentukan titik di mana gudang lokasi penyimpanan bahan peledak itu adalah pihak kepolisian.

"Setelah titik sudah ditentukan, barulah gudang penyimpanan didirikan. Luasnya (gudang) 5.000 meter," ujarnya.

Sedangkan untuk ganti untung, kedua staf PT Waskita karya itu mengaku tidak berwenang untuk menjelaskannya.

Informasi yang didapat Okezone, status 456 bidang yang terpecah 267 bidang di Desa Tlobo dan 189 bidang di Desa Karangsari, Jatiyoso, Karanganyar.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini