Arfian Fuadi, Anak Kampung yang Taklukan Dunia dengan D'Tech Enginering

Yaomi Suhayatmi, · Jum'at 01 November 2019 12:31 WIB
https: img.okezone.com content 2019 11 01 340 2124515 arfian-fuadi-anak-kampung-yang-taklukan-dunia-dengan-d-tech-enginering-RjOAmvmRFd.jpg Arfian Fuadi (Foto: Tim Okezone)

KALEM, bicara dan senyumnya hanya sedikit. Itulah kesan pertama bagi yang belum mengenal lebih dekat sosok Arfian Fuadi, ahli designer engineering yang karyanya telah mendunia dari Salatiga, Jawa Tengah. Tapi, kesan itu akan berubah drastis jika ngobrol lebih lama dengan founder Dtech-Engineering ini. Ternyata, Arfian Fuadi #localhereoes satu ini adalah kawan asyik yang diajak untuk sharing. Hanya saja, siap-siap jika ia banyak menggunakan istilah teknis yang kita tidak paham, tapi tidak perlu khawatir, Mas Arfian begitu ia akrab disapa akan menjelaskannya dengan sabar dan detail.

Pria kelahiran Salatiga, 2 Juli 1986 ini, bukan sarjana lulusan luar negeri, bukan juga seorang sarjana ilmu komputer di universitas ternama, tetapi ratusan karya inovatifnya telah berhasil menembus pasar internasional. Karya-karyanya tersebar ke berbagai perusahaan yang tersebar di Asia, Eropa dan Amerika. “Di Indonesia juga ada, tapi hanya sedikit, bisa dibilang dari 100 pesanan, 99nya asing, dari dalam negeri hanya 1. Kami pernah menerima pesanan dari PT. INKA untuk mendesign kereta api untuk diekspor ke Philifina. Jadi sebagian besar langganan kami dari perusahaan asing,” tutur Arfian dengan gayanya yang kalem.

Rasanya tak percaya memang jika ahli design engineering ini hanya lulusan SMK. Tapi begitulah adanya, Arfian adalah lulusan SMKN 7 Semarang tahun 2005 silam. Namun, pendidikan yang terbatas baginya bukan kendala untuk terus berkarya. Bermodal kemauan dan tekad yang kuat, ia belajar secara otodidak dan berani bersaing dengan negara-negara maju. “Harus berani bermimpi dan berani berkompetisi,” tuturnya, ketika ditanya apa yang membuat karya-karyanya sukses mendunia.

Arfian memang tak asal bicara, ia berkali-kali berhasil menjadi jawara di ajang kompetisi internasional Global Challenge dan mengalahkan doktor dan ahli perusahaan penerbangan dalam kompetisi. Di tahun 2017, mengikuti kompetisi tingkat dunia, yaitu Global Challenge. Pada saat itu Alfian dan timnya membuat alat untuk menginspeksi bagian dalam mesin jet. Dalam kompetisi ini Arfian berhasil mengalahkan 700 peserta dari berbagai negara. Serta, masih banyak lagi kompetisi

Selain itu, pada 2013 Arfian juga mengikuti kompetisi tingkat dunia, ia berhasil menjadi pemenang dalam perlombaan 3D Printing Challenge dengan desain jet engine bracket, yang diselenggarakan General Electric (GE) perusahaan teknologi Amerika Serikat yang didirikan oleh ilmuwan Thomas Alfa Edison. Dan masih banyak kompetisi internasional lainnya yang membanggakan.

Fokus pada tujuan dan menghargai setiap proses yang dijalaninya membuat Arfian yakin menetapkan bidang 3D design engineering sebagai konsentrasinya. “ Dari keyakinan tersebut, kami langsung belajar otodidak aplikasi CAD, perhitungan meterial dengan FEA (finite element analysis),” jelasnya. Arfian pun menuturkan jika ia membutuhkan proses yang tidak sebentar untuk mewujudkan mimpi besarnya.

Lulus SMKN 7 Semarang tahun 2015, Arfian sebenarnya sempat kuliah, namun berhenti di tengah jalan karena kendala biaya. “Setelah lulus saya ingin mengembangkan passion saya dan saat itu saya sempat kuliah di Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) tapi hanya mampu bertahan dua semester karena ketebtasan ekonomi,” pungkasnya.

Meski begitu, Arfian yakin jika pasti ada jalan lain yang bisa ia lakukan untuk terus mewujudkan mimpi besarnya. “Bersyukur meski dalam dalam yang sebetulnya sulit, impian saya semakin tidak terbendung untuk terus maju dan mendirikan Dtech-Engineering. Aapalagi usia juga masih sangat muda saat itu dan saya merasa pikiran saya cukup ekstrem untuk seusia saya,” katanya

CIMB Niaga

Hingga pada akhirnya 4 tahun kemudian Arfian memberanikan diri untuk mendirikan D’tech Engineering yang didirikannya di akhir tahun tepatnya pada 9 Desember 2008. “D-tech adalah representasi kebutuhan kami untuk terus berkarya yang bisa dimanfaatkan untuk khalayak atau masyarakat, bangsa, negara serta semua umat manusia. Dan sampai sekarang saya masih terus bersyukur karena Dtech Engineering masih terus berkembang,” paparnya.

Saat ini, Dtech-Engineering telah memiliki karyawan 30 orang karyawan yang dikelola dengan sistem profesional. Menariknya Arfian mempekerjakan karyawannya tidak melihat latar belakang pendidikan. Tidak heran jika sebagian besar karyawannya yang berkantor di kediamannya di Salatiga adalah lulusan SMK di wilayah sekitar. Dtech-Engineering juga terbuka bagi siswa maupun mahasiswa dari berbagai sekolah dan perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

Tidak hanya itu di tengah kesibukannya, Arfian masih menyempatkan diri untuk memberikan pelatihan gratis kepada mereka yang ingin belajar tentang design engineering yang digelutinya. “Ilmu tak akan akan habis jika dibagi, justru akan membuat kita semakin menguasai ilmu yang kita miliki, saya senang jika semakin banyak yang mempelajari teknik ini karena akan menciptakan kompetisi baru, sehingga posisi Indonesia semakin kuat di pasar global,” jelasnya.

Tidak Mudah untuk mendapatkan Mimpi Besar Itu

Prinsip yang ia pegang teguh saat ini memang tak lepas dari perjalanan panjang dalam menggapai kesuksesan yang sekarang ia raih. Perjalanan Arfian menuju kesuksesan memang tidaklah mudah. Dulu, ia harus bekerja banting tulang membantu perekonomian keluarga dan bekerja sebagai cuci cetak foto, juga pernah bekerja di bengkel sepeda motor hingga berjualan susu keliling kampung. “Saya sadar jika penghasilan orangtua kami pas-pasan. Jika tidak bekerja tentu tidak bisa membantu kedua orangtua. Pekerjaan apapun saya jalani asalkan halal,” katanya

Bahkan katanya lagi, guna memperoleh modal ia juga rela bekerja serabutan. Semua ia lakukan demi mengumpulkan pundi-pundi sebagai modal meskipun pada saat itu yang ia beli hanyalah sebuah komputer bekas. “Awal mendirikan usaha bersama sang adik, yakni hanyalah seperangkat komputer bekas. Harganya kalo tidak salah sekitar 1 juta, 750 ribu rupiah. Bagi saya, ini semua adalah tantangan bukan hambatan. Saya terus melangkah dan buktikan meskipun semua yang saya lalui terasa berat,” katanya

Komputer yang berhasil dibelinya adalah MD 3000+ yang dibelinya dari hasil urunan keluarganya dan gaji saat Arfian bekerja sebagai penjaga malam di PT Pos indonesia.”Saat itu penghasilan saya sekitar Rp 700 ribu. Kemudian ditambahkan dengan sisa uang beasiswa adik saya dan juga dibantu bapak. Dari hasil tersebut saya bisa membeli komputer ,” tuturnya

Arfian menuturkan saat kali pertama dirinya menerima orderan. Saat itu, ia mencari di sebuah situs freelance kemudian mendapatkan pesanan pertama mendesain jarum untuk alat ukur di Jerman. Pengusaha tersebut membayar sekitar USD 10 per set. Dan saat itu karena tenaga juga masih sangat terbatas, Arfian mengaku hanya mampu mengerjakan desain sebanyak tiga set jarum saja selama dua minggu.”Kalo sekarang mungkin 10 menit pun jadi ya. Dulu kan serba terbatas, mau download atau kirim email harus ke warnet dulu. Sementara kami hanya punya modem dengan kecepatan 2 kbps,” kenangnya

Semenjak itu, orderan pun semakin banyak bahkan saat Arfian menolak pesanan, si pemesan bersedia menambahkan sejumlah uang sebesar USD 5. Hal tersebut tentu membuat Arfian merasa di apresiasi dan dimotivasi untuk terus berkembang.

“Sejak itu order terus mengalir tak pernah sepi. Model desain yang dipesan pun makin beragam. Mulai dari desain pesawat penyebar pupuk yang dipesan oleh Amerika Serikat hingga desain kandang sapi yang dirakit tanpa paku yang pernah dipesan oleh orang Selandia Baru.

”Bahkan saya juga pernah diminta desain mobil lama GT40 dengan handling yang sama. Untuk proyek itu, si pemilik sampai harus membongkar komponen mobilnya dan difoto satu-satu untuk kami teliti. Jadi, kami yang menentukan mesin yang harus dibeli, sasisnya model bagaimana dan seterusnya. Hasilnya, kata si pemesan, 95 persen mirip,” jelasnya.

Hingga saat ini, Dtech-Engineering sudah menyelesaikan ratusan desain produk. Mulai dari produk kecil seperti gantungan kunci, bolpoin sampai pesawat untuk menyiram hama tanaman. Arfian pun mengatakan jika semua desain yang dibuatnya memiliki cerita tersendiri dan berbeda dari desain-desain yang dimiliki oleh perusahaan lainnya. “Dtech akan terus berproses, belajar, dan berkembang. Kami optimistis dan akan melakukannya,” katanya.

Setelah sukses mengejar mimpi untuk mendunia bersama Dtech-Engineering, ayah satu putri ini pun bermimpi suatu saat, produk-produk yang digunakan di Indonesia adalah hasil karya anak negeri. “Dari Indonesia untuk Indonesia. Didesign oleh anak bangsa, diproduksi di Indonesia, digunakan di Indonesia baru kemudian diekspor keluar negeri dengan brand Indonesia. Bukan sebaliknya seperti sekarang ini, banyak produk dicreate design-nya di Indonesia, dirakit maupun diproduksi di Indonesia, tetapi dijual di Indonesia dengan brand asing, negara lain yang menikmati untungnya,” tegasnya di sela-sela shooting TVC #KejarMimpi CIMB NIAGA. (adv)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini