nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gunakan Sampah Plastik untuk Bahan Bakar, Ini Alasan Pemilik Pabrik Tahu

Syaiful Islam, Jurnalis · Selasa 19 November 2019 21:42 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 11 19 519 2131968 gunakan-sampah-plastik-untuk-bahan-bakar-ini-alasan-pemilik-pabrik-tahu-vDehIoStr0.jpg Pabrik tahu (Foto: Okezone/Syaiful Islam)

SURABAYA - Sejumlah pabrik tahu rumahan yang ada di Dusun Klagen, Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur masih menggunakan sampah plastik untuk bahan bakar. Ini dilakukan para pemilik pabrik tahu rumahan untuk menekan biaya produksi.

Mereka berdalih jika memakai kayu sebagai bahan bakar biayanya terlalu tinggi. Sehingga untung yang didapat sangat sedikit. Bahkan, bisa merugi jika dibarengi dengan harga kedelai naik. Harga sampah plastik Rp200 ribu untuk satu pikap.

Baca Juga: Waspada, Kerupuk dan Sosis Mengandung Babi Beredar di Singkawang 

Sedangkan untuk kayu bakar harganya Rp400 ribu sampai Rp500 ribu. Para pemilik pabrik tahu sebenarnya sudah tahu akan berdampak polusi jika memakai bahan bakar dari limbah plastik, namun karena terbentur persoalan biaya produksi, akhirnya tetap memilih pakai sampah plastik.

"Saya memakai sampah plastik sebagai bahan bakar memasak kedelai untuk pembuatan tahu. Memakai sampah plastik lebih irit biayanya dibandingkan pakai kayu. Di samping itu mencari kayu bakar agak sulit sekarang," ujar pemilik pabrik tahu rumahan, Lucky, Selasa (19/11/2019).

 Ilustrasi tahu Foto Istimewa

Menurut Lucky, tidak hanya dirinya yang memakai sampah plastik untuk bahan bakar memasak kedelai untuk selanjutnya dijadikan tahu, namun pemilik pabrik tahu rumahan lainnya juga demikian. Dirinya memakai sampah plastik sebagai bahan bakar sudah lama.

Dalam sehari dia bersama keluarganya berhasil memproduksi tahu 10 sampai 11 kaleng besar. Tahu produksinya dijual sendiri ke Pasar Krian. Omzet yang diterima setiap hari senilai Rp1,2 juta.

"Untuk biaya produksinya seperti membeli kedelai, sampah plastik dan yang lain habis Rp900 ribu. Jadi sisa atau keuntungannya Rp300 ribu, itu masih dibagi dengan anggota keluarga lain yang ikut bekerja. Maka kalau pakai kayu bakar untungnya sedikit sekali, bahkan tekadang rugi," paparnya.

Baca Juga: Makanan dan Minuman Kedaluwarsa Ditemukan di Pasar Tradisional Kulonprogo 

Akibat memakai sampah plastik sebagai bahan bakar memasak kedelai asap yang keluar dari cerobong pabrik tahu rumahan tersebut hitam pekat. Sehingga diperkirakan akan berpengaruh terhadap kesehatan udara di lingkungan sekitar.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini