1.647 Kelas di Jateng Rusak Berat, Tak Layak untuk Belajar

Taufik Budi, iNews.id · Rabu 27 November 2019 21:28 WIB
https: img.okezone.com content 2019 11 27 512 2135223 1-647-kelas-di-jateng-rusak-berat-tak-layak-untuk-belajar-UVTSUOdRlM.jpg Kepala Disdikbud Jateng, Jumeri (Foto: Taufik Budi)

SEMARANG - Sebanyak 1.647 ruang kelas SMA/SMK/SLB negeri di Jawa Tengah rusak berat. Kondisi itu menggangu kegiatan belajar mengajar karena siswa tak nyaman menempuh pendidikan.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Jawa Tengah, Jumeri, mengatakan, kasus robohnya aula SMKN 1 Miri Sragen membuat pihaknya mengambil langkah cepat. Dia pun memerintahkan seluruh Kepala SMA/SMK/SLB negeri di bawah naungan Pemprov Jateng untuk melakukan pengecekan.

"Hasilnya, ruang kelas yang mengalami kerusakan baik rusak berat, rusak sedang dan rusak ringan cukup besar di sejumlah sekolah. Dari total 634 SMA/SMK/SLB negeri di Jawa Tengah, total ruang kelas yang mengalami kerusakan berat sebanyak 1.647 ruangan," kata Jumeri, saat menggelar konferensi pers di kantor Gubernur Jateng, Jl Pahlawan Kota Semarang, Rabu (27/11/2019).

Jumeri merinci, untuk SMK negeri sebanyak 235 sekolah, ruang kelas yang rusak berat sebanyak 1.432 ruang. Sementara untuk SMA negeri, dari total 360 sekolah, terdapat ruangan yang rusak berat sebanyak 177, dan SLB Negeri dengan total 39 sekolah, sebanyak 38 ruangan rusak berat.

Ilustrasi

"Nantinya, anggaran yang telah disediakan tahun depan itu akan diprioritaskan dalam perbaikan sekolah-sekolah yang mengalami rusak berat," tegasnya.

Untuk kondisi sekolah rusak ringan, di SMKN terdapat 136 ruangan, SMAN 284 dan SLBN 61 ruangan. Untuk kondisi rusak ringan, SMKN sebanyak 1.397 ruangan, SMAN 3.881, dan terakhir untuk SLBN ada sebanyak 403 yang rusak ringan.

"Sementara ruang kelas yang kondisinya baik dari SMA/SMK dan SLB negeri di Jateng berjumlah 8.780 ruangan," tambahnya.

Banyaknya ruang kelas yang rusak dikarenakan beberapa faktor. Di antaranya karena usia bangunan sekolah di Jateng yang cukup tua, sehingga kerusakan termakan usia.

"Selain itu, banyak sekolah di Jateng yang belum dalam konstruksi tahan gempa, berada di daerah rawan bencana dan juga salah perencanaan konstruksi saat pembangunan. Persoalan-persoalan itu akan kami jadikan bahan evaluasi dalam perencanaan pembangunan sarpras pendidikan ke depan," tegasnya.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini