nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pengacara Pribadi PM Israel Benjamin Netanyahu Dituduh Melakukan Pencucian Uang

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Jum'at 06 Desember 2019 10:20 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 12 06 18 2138632 pengacara-pribadi-pm-israel-benjamin-netanyahu-dituduh-melakukan-pencucian-uang-hDNonsfujj.jpg David Shimron (kiri) dan PM Israel Benjamin Netanyahu (kanan). Foto/Ynetnews

TEL AVIV - Pengacara pribadi dan orang kepercayaan  Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan melakukan pencucian uang.

Tuduhan itu dilaporkan diajukan terhadap pengacara David Shimron terkait dengan pembelian kapal selam negara dari perusahaan Jerman Thyssenkrupp.

Tuduhan juga diperkirakan akan dilakukan terhadap rekan dekat Netanyahu lainnya termasuk pengusaha yang mewakili Thyssenkrupp di Israel dan mantan kepala angkatan laut Israel, menurut kementerian kehakiman melansir Haaretz, Jumat (6/12/2019).

Kasus pencucian uang dan korupsi tersebut populer dengan istilah “The Submarine Affair”. Kasus muncul menyusul keputusan pemerintah untuk membeli kapal selam dan kapal dari perusahaan Jerman.

Baca juga: Didakwa Korupsi, Benjamin Netanyahu Tak Harus Mundur dari Perdana Menteri Israel

Baca juga: PM Israel Benyamin Netanyahu Didakwa Atas Tuduhan Korupsi, Suap dan Penipuan

Investigasi kriminal melibatkan dua kesepakatan yang ditandatangani oleh Israel dan Thyssenkrupp yang menjamin akuisisi tiga kapal selam seharga 1,5 miliar euro (sekira Rp 23 triliun) dan kapal rudal untuk melindungi anjungan pengeboran gas senilai 430 juta euro (sekira Rp6,6 triliun), Haaretz melaporkan.

Foto/Reuters

Pada bulan November 2018, pihak berwenang memberi tahu bahwa beberapa pembantu Netanyahu akan didakwa karena diduga mengambil bagian atas dari kesepakatan besar tersebut.

Itu terjadi ketika Benjamin Netanyahu bisa diberikan pengampunan presiden atas tuduhan korupsi jika dia mengakui tuduhan dan pensiun dari politik.

Langkah itu, dilaporkan sedang dipertimbangkan oleh Presiden Israel Reuven Rivlin, yang diharapkan dapat memberikan jalan keluar kasus yang sudah berjalan sejak April.

Israel menghadapi pemilihan ketiga yang belum pernah terjadi sebelumnya hanya dalam 12 bulan jika kesepakatan koalisi antara partai tidak dapat dicapai pada 11 Desember.

Sebelmnya Perdana Menteri terlama di negara itu, yang didakwa atas tuduhan penipuan, pelanggaran kepercayaan dan penyuapan pada dua minggu lalu.

Benny Gantz, rival utama Netanyahu, sebelumnya mengatakan dia tidak akan bekerja dengan pemimpin yang terlibat kasus.

Setelah Netanyahu didakwa, Gantz mengecam bahwa dia tidak memiliki "mandat publik atau moral untuk membuat keputusan yang menentukan bagi negara Israel."

Kedua pemimpin telah berusaha membentuk pemerintahan persatuan nasional setelah pemungutan suara September, membuat mereka kekurangan mayoritas kursi di Parlemen Israel, dan kekurangan sekutu yang cukup untuk membentuk koalisi yang berfungsi.

Sebagai cara untuk memecahkan kebuntuan, berita Channel 12 Israel melaporkan bahwa Rivlin terbuka dengan gagasan memungkinkan Netanyahu untuk pensiun secara damai dengan menggunakan pengampunan presidennya.

Tetapi pertama-tama dia harus mengaku bersalah atas tuduhan itu, yang sebelumnya dia gambarkan sebagai “upaya kudeta”.

"Ini adalah percobaan kudeta berdasarkan pada pemalsuan dan proses investigasi yang tercemar dan bias," kata Netanyahu saat pidato di televisi saat didakwa.

"Aku akan terus memimpin negara, menurut surat hukum, dengan tanggung jawab, pengabdian, dan kepedulian untuk semua masa depan kita."

Netanyahu diduga melakukan kesalahan karena menerima hadiah senilai USD264.000 (sekira Rp3,7 miliar), yang menurut jaksa penuntut termasuk cerutu dan sampanye, dari para taipan.

Dia bisa menghadapi 10 tahun penjara jika terbukti melakukan suap dan hukuman maksimum 3 tahun untuk penipuan dan pelanggaran kepercayaan.

Komite Pemilu Umum Israel mengatakan pihaknya sedang mempersiapkan putaran pemungutan suara lagi, meskipun masih ada satu minggu tersisa untuk kesepakatan yang akan dicapai.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini