nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Keponakan PM Pakistan Diburu Polisi Terkait Penyerbuan Rumah Sakit di Lahore

Rahman Asmardika, Jurnalis · Sabtu 14 Desember 2019 11:40 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 12 14 18 2141867 keponakan-pm-pakistan-diburu-polisi-terkait-penyerbuan-rumah-sakit-di-lahore-KZHA4PuOcN.jpg Keponakan PM Imran Khan, Hassan Niazi tertangkap kamera dalam kerusuhan di Rumah Sakit Institut Kardiologi Punjabi. (Foto: ARY News)

LAHORE - Polisi di Pakistan mengatakan mereka berusaha menangkap keponakan Perdana Menteri (PM) Imran Khan karena ikut ambil bagian dalam protes dengan kekerasan di rumah sakit jantung di Lahore, di mana sedikitnya tiga pasien meninggal dunia. Polisi Lahore menyerbu kediaman Hassan Niazi dan mengatakan dia mungkin sekarang bersembunyi.

Niazi adalah di antara beberapa ratus pengacara yang menyerbu rumah sakit di kota itu dalam perselisihan dengan para dokter. Polisi anti huru-hara harus dipanggil untuk memulihkan ketertiban.

BACA JUGA: Gerombolan Pengacara Serbu Rumah Sakit di Pakistan, Sebabkan Sedikitnya 3 Korban Tewas

Foto-foto para pengacara, mengenakan setelan dan dasi, menyerang staf dan merusak properti di rumah sakit telah memicu kejutan dan kecaman. Foto Niazi, terutama banyak beredar di daring, dengan banyak orang mengkritik pengacara itu.

Niazi juga telah mengakui ambil bagian dalam kekerasan di Rumah Sakit Institut Kardiologi Punjab (PIC) Lahore dan mengatakan di Twitter bahwa dia menyesal.

Paman Niazi, PM Imran Khan yang cukup aktif di Twitter sama sekali tidak menyebutkan mengenai keributan terkait hubungannya dengan sang keponakan dan kekerasan yang terjadi pada Rabu, 11 Desember itu. Dalam sebuah rekaman, Niazi terlihat berperan aktif dalam keributan di Lahore itu, dan terekam berpartisipasi dalam serangan fisik serta pembakaran.

Pengacara dan aktivis hak asasi manusia itu ditahan oleh polisi segera setelahnya dan terlihat dikawal keluar dari lokasi. Karena itu banyak yang terkejut ketika namanya tidak muncul dalam laporan polisi yang berisi daftar pengacara yang menghadapi tuntutan pengadilan sehubungan dengan kekerasan tersebut.

Pihak berwenang belum menjelaskan apa yang terjadi setelah dia ditahan, tetapi seorang juru bicara kepala polisi kota mengatakan Niazi telah diidentifikasi melalui rekaman video dan sekarang sedang dicari.

BACA JUGA: Pulang dari PBB, PM Pakistan Umumkan Jihad Atas Kashmir

"Kediamannya di Lahore digerebek oleh polisi tadi malam dan juga pagi ini untuk menangkapnya, tetapi dia tidak ditemukan di sana dan mungkin bersembunyi," kata Juru Bicara Kepolisian Waseem Butt, kepada wartawan BBC Urdu.

Banyak yang mempertanyakan keterangan itu. Beberapa orang bertanya-tanya apakah dia dibebaskan karena dia terkait dengan perdana menteri. Para politisi oposisi menuntut agar Niazi segera ditangkap.

Lebih dari 80 pengacara ditangkap atas serangan rumah sakit tersebut, dan 46 di antaranya telah ditahan. Pengacara menyerukan pemogokan nasional pada Jumat, marah pada perlakuan polisi terhadap rekan-rekan mereka di Lahore, namun pemberitaan media dan kemarahan warganet menunjukkan rakyat Pakistan tidak mendukung tindakan mereka.

Keributan di Lahore diduga dipicu oleh dugaan perlakuan buruk terhadap beberapa rekan mereka oleh staf rumah sakit bulan lalu. Tapi pemicu kerusuhan terbaru itu tampaknya adalah sebuah video yang di-posting di media sosial oleh seorang dokter pada Selasa malam di mana ia mengolok-olok pengacara.

Foto: AFP.

Keesokan harinya gerombolan pengacara menyerbu bangsal rumah sakit, memukuli staf dan menghancurkan peralatan. Saat kepanikan menyebar, dokter dan paramedis bersembunyi, meninggalkan pasien tanpa pengawasan, termasuk mereka yang dalam kondisi kritis.

Sumber rumah sakit mengatakan sedikitnya tiga pasien, seorang wanita dan dua pria, meninggal karena dokter tidak dapat merawat mereka selama kekerasan. Diyakini bahwa wanita itu berada di unit perawatan intensif.

Para pejabat mengatakan bahwa polisi anti huru-hara menembakkan gas air mata dan membutuhkan lebih dari dua jam untuk memulihkan ketertiban.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini