nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mantan PM Malaysia Dituduh Perintahkan Polisi Tembak Mati Warga Mongolia

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Senin 16 Desember 2019 16:09 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 12 16 18 2142509 mantan-pm-malaysia-dituduh-perintahkan-polisi-tembak-mati-warga-mongolia-cq2iykSz7e.jpg Mantan PM Malaysia Najib Razak. (Foto/Reuters)

PETALING JAYA – Mantan Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Najib Razak dituduh memberi perintah untuk membunuh warga negara Mongolia, Altantuya Sharibuu.

Tudingan itu disampaikan mantan komando polisi Azilah Hadri, yang telah dijatuhi hukuman mati atas kasus tersebut.

Melansir The Star, Senin ( 16/12/2019), Azilah Hadri merupakan mantan Kepala Inspektur. Ia mengklaim pada 2006, Najib memerintahkannya untuk menembak mati Altantuya karena dia adalah "mata-mata asing yang berbahaya". Saat itu, Najib menjabat wakil perdana menteri serta menteri pertahanan Malaysia.

Permintaan Najib terungkap dalam surat peninjauan kembali (PK) Azilah kepada Pengadilan Federal agar pengadilan bisa meninjau kembali keputusannya terkait hukuman mati yang dikenakan padanya dan Kopral Sirul Azhar Umar, yang juga mantan komando polisi, pada tahun 2001.

Baca juga: Sita Uang Najib Razak USD29 Juta, 22 Petugas Dikerahkan dan Butuh 3 Hari untuk Menghitungnya

Baca juga: Najib Razak Klaim Brankas Berisi Permata adalah Hadiah

Foto/The Star

Surat permohonan peninjauan itu merinci bagaiamana dia bertemu Najib melalui seseorang bernama Musa. Ketika itu ia bertugas di kediaman Sri Kenangan di Pekan sebagai petugas Unit Aksi Khusus (UTK) Bukit Aman.

“Musa membawa saya untuk bertemu DPM (Najib) di ruang kantor di kediaman Sri Kenangan di Pekan, setelah itu ia meninggalkan ruangan. DPM bertanya kepada saya, apakah saya ada kenalan polisi di kantor polisi Brickfields (Markas Besar Polisi Malaysia), yang saya jawab dengan tegas,” isi surat PK Azilah.

“DPM kemudian memberi tahu saya bahwa ada mata-mata asing berada di Kuala Lumpur dan berusaha mengancam DPM dan petugas khusus yang dikenal sebagai (Abdul) Razak Baginda.

Dalam surat itu menyebutkan petugas khusus tersebut adalah teman baik DPM. Pria itu pernah ditemui Azilah selama dia bertugas di London, Inggris.

Azilah diberi tahu bahwa mata-mata asing itu adalah seorang wanita dan sangat berbahaya karena banyak rahasia yang dia ketahui tentang keamanan nasional Malaysia.

“Mata-mata asing tidak dapat mendekati DPM karena keamanan yang ketat, oleh karena itu mata-mata asing mengancam petugas khusus DPM (sebagai gantinya),” tulis Azilah.

“Saya harus berhati-hati dengan wanita mata-mata asing karena dia adalah cerdas dan licik - salah satunya adalah dia (mengaku) hamil.

Ia menyarankan Nazib untuk membuat laporan ke polisi dan dia akan meminta bantuan kepada rekannya dari markas besar Kepolisian Malaysia. Namun saran dan permintaan itu ditolak Nazib.

“DPM mengatakan bahwa [masalah] ini tidak boleh publik karena [melibatkan] ancaman terhadap keamanan nasional. DPM kemudian menginstruksikan saya untuk melakukan operasi rahasia untuk menangkap dan menghancurkan mata-mata secara diam-diam dan menghancurkan tubuhnya menggunakan bahan peledak.”

“Saya bertanya kepada DPM apa yang dia maksud dengan 'menangkap dan menghancurkan mata-mata asing,' dan dia menjawab, 'Menembak mati.’”

Saat ditanya tujuan menghancurkan mata-mata asing dengan bahan peledak, DPM menjawab, “Buang tubuh mata-mata asing dengan alat peledak untuk menghilangkan jejak. Bahan peledak dapat diperoleh dari toko UTK (gudang senjata).

"DPM mengingatkan saya untuk melakukan operasi rahasia ini dengan hati-hati dan dengan tingkat keamanan dan kerahasiaan yang tinggi karena melibatkan ancaman terhadap keamanan nasional," kata Azilah dalam surat PK, yang diterbitkan oleh Malaysiakini.

Najib menepis tuduhan tersebut dan mengatakan klaim itu palsu.

Pada tahun 2009, Azhar dan Sirul dihukum dan dihukum mati oleh Pengadilan Tinggi Shah Alam karena membunuh wanita Mongolia di Mukim Bukit Raja, Klang pada 2006.

Pada 2013, Pengadilan Banding membatalkan keputusan Pengadilan Tinggi Shah Alam untuk menghukum kedua orang tersebut, sehingga keduanya lolos dari hukum gantung.

Panel yang diketuai oleh Hakim Agung Mohamed Apandi Ali, dalam putusan pengadilan setebal 47 halaman menyatakan bahwa bukti oleh jaksa tidak cukup. Namun pada 2015, Pengadilan Federal menghukum mati Azilah dan Sirul karena membunuh Altantuya.

Sementara Mantan analis politik Abdul Razak Baginda, yang didakwa bersama Azhar dan Sirul, dibebaskan oleh Pengadilan Tinggi pada 2008. Jaksa tidak mengajukan banding atas pembebasannya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini