nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Militer AS Kehilangan Tujuh Drone Selama Serangan Rudal Iran di Pangkalan Irak

Rahman Asmardika, Jurnalis · Jum'at 17 Januari 2020 10:16 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 01 17 18 2154115 militer-as-kehilangan-tujuh-drone-selama-serangan-rudal-iran-di-pangkalan-irak-fEBgVtW2eK.jpg Foto: AFP.

WASHINGTON - Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan kehilangan beberapa pesawat tanpa awaknya selama serangan rudal yang dilancarkan Iran di pangkalan udara Ain al-Asad pekan lalu. Pada saat serangan diluncurkan pada 8 Januari, pukul 01:35 pagi waktu setempat, tentara AS diketahui menerbangkan tujuh kendaraan udara tak berawak (UAV) di atas Irak untuk memantau pangkalan di mana pasukan koalisi pimpinan-AS dikerahkan.

Pesawat tak berawak itu termasuk MQ-1C Grey Eagles, drone pengintai canggih yang dapat terbang selama 27 jam dan membawa muatan hingga empat rudal Hellfire.

BACA JUGA: Kisah Tentara Amerika Serikat Berlindung di Bunker saat Dihujani Rudal Iran

"Kami pikir itu mungkin mengarah ke serangan darat, jadi kami terus menerbangkan pesawat," kata salah satu pilot, Sersan Staf Costin Herwig sebagaimana dilansir AFP, Jumat (17/1/2020).

Herwig menerbangkan Gray Eagle ketika rudal Iran pertama menghantam pangkalan Ain al-Asad, pembalasan atas pembunuhan terhadap Jenderal Iran Qasem Soleimani oleh serangan udara AS di Baghdad, pada 3 Januari 2020.

Foto: AFP.

Sebagian besar dari 1.500 tentara AS lainnya telah berlindung di dalam bunker selama dua jam, setelah mendapat peringatan dari atasan mereka. Tetapi 14 pilot tetap tinggal di dalam kontainer gelap yang diubah menjadi kokpit untuk menerbangkan pesawat tak berawak tersebut dari jarak jauh dan memonitor pantauan penting dari kamera-kamera berkekuatan tinggi mereka.

Herwig mengatakan bahwa hantaman rudal pertama menerbangkan debu ke tempat berlindung mereka, tetapi para pilot tetap tinggal. Rangkaian tembakan berikutnya semakin dekat dan lebih dekat, dan Herwig mengatakan bahwa saat itu dia telah "menerima nasib".

"Kami pikir pada dasarnya kami sudah selesai," katanya kepada AFP.

Namun, krisis ternyata baru di mulai. Tembakan-tembakan rudal, yang dikatakan berlangsung sekira tiga jam, menghantam kamar tidur yang berbatasan langsung dengan ruang operasi pilot.

"Tidak lebih dari satu menit setelah tembakan putaran terakhir menghantam, saya menuju ke bunker di sisi paling belakang dan melihat api membakar seluruh jalur kabel serat kami," kata Sersan Satu Wesley Kilpatrick.

Jalur kabel itu menghubungkan kokpit virtual ke antena kemudian satelit yang mengirim sinyal ke Grey Eagles dan menarik tangkapan kamera ke layar di Ain al-Asad.

"Dengan jalur kabel serat terbakar, tidak ada kontrol," kata Kilpatrick.

Para prajurit tidak bisa lagi menemukan drone dan menjadi buta terhadap peristiwa di udara - dan di darat. Jika sebuah drone ditembak jatuh, misalnya, tim yang berada di Ain al-Asad tidak akan tahu.

"Ini masalah yang cukup besar, karena mereka sangat mahal dan ada banyak hal di dalamnya yang kita tidak ingin orang lain miliki atau musuh dapatkan," kata Herwig.

Sebuah Gray Eagle berharga sekitar USD7 juta (sekita Rp95,5 miliar), menurut perkiraan anggaran militer 2019.

Mereka telah digunakan di Irak sejak setidaknya 2017 oleh koalisi untuk membantu memerangi kelompok jihad Negara Islam (IS). Koalisi perlu mendapatkan lampu hijau dari pemerintah Irak untuk menerbangkan pesawat dan pesawat, tetapi izin itu telah berakhir beberapa hari sebelum serangan dari Iran.

BACA JUGA: Iran Kibarkan Bendera Merah Serukan Pembalasan ke AS atas Kematian Jenderal Soleimani

Tentara AS tetap mempertahankan pesawat tanpa awak itu, kata seorang pejabat senior pertahanan Amerika kepada wartawan, setelah berbulan-bulan serangan roket ke pangkalan-pangkalan Irak di mana pasukan mereka ditempatkan.

Foto: Reuters.

Setelah serangan berakhir, tentara AS di Ain al-Asad berpacu dengan waktu untuk mengganti kabel-kabel serat dan memprogram ulang satelit agar pesawat-pesawat tak berawak mereka dapat kembali dihubungi. Mereka juga harus mendaratkan pesawat-pesawat itu kembali ke landasan pangkalan udara yang rusak.

"Lapangan terbang ditutup sehingga kami harus mendarat tanpa berbicara dengan siapa pun. Kami tidak tahu di mana ada pesawat (lainnya). Bagian itu cukup menegangkan," kata Herwig.

Prioritasnya adalah Grey Eagle yang telah dijadwalkan untuk mendarat tepat ketika serangan rudal dimulai, dan yang tetap terbang sampai bahan bakarnya tersisa sangat sedikit. Para pilot bekerja keras untuk menyelesaikan misi tersebut.

Foto: Reuters.

Sekira jam 9:00 pagi di hari yang sama, pesawat tak berawak terakhir berhasil didaratkan di landasan udara Ain al-Asad.

"Kami mendaratkan semua burung kami sendiri di lokasi," kata Kilpatrick dengan senyum lega. "Itu benar-benar suatu prestasi," ujarnya bangga.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini