nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perayaan Imlek di Hong Kong yang Terbelah, Pro dan Antipemerintah China

Minggu 26 Januari 2020 03:18 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 01 26 18 2158350 perayaan-imlek-di-hong-kong-yang-terbelah-pro-dan-antipemerintah-china-FH29skoWYg.jpg Hong Kong merayakan imlek dengan banyak elemen yang terinspirasi dari unjuk rasa antipemerintah China. (BBC)

SEPERTI komunitas China di seluruh dunia pada umumnya, masyarakat Hong Kong merayakan tahun baru China akhir pekan ini.

Melansir BBC Indonesia, namun, unjuk rasa prodemokrasi yang mengguncang kota itu selama tujuh bulan terakhir berdampak besar pada perayaan pergantian tahun kali ini.

Pemerintah setempat membatalkan pertunjukan kembang api tahunan atas pertimbangan keamanan. Pawai yang biasanya menarik perhatian turis dari seluruh dunia juga dibatalkan.

Ada rencana menggantinya dengan karnaval yang lebih kecil. Tapi acara itu juga dibatalkan karena penyebaran virus korona dari China daratan.

Sejumlah pemilik toko yang menjual barang-barang khas imlek berkata kepada BBC bahwa omzet mereka anjlok 50%. Di salah satu pasar rakyat jelang imlek di pusat Hong Kong, banyak kios berupaya menarik perhatian pembeli, walau tak banyak dari mereka yang berhasil.

Salah satu pemilik kios itu, yang bernama So, menyalahkan para demonstran penentang pemerintah China.

"Orang-orang tidak lagi keluar rumah. Mereka khawatir pengunjuk rasa membuat masalah di pasar ini," ujarnya.

Beberapa pembeli menolak pasar Tahun Baru yang dikelola pemerintah dan memilih mengunjungi pasar yang dikelola pendukung protes. (Foto : BBC/AFP)

Keluarga terpecah dengan pandangan yang berlawanan

Namun perubahan yang terjadi lebih dari sekedar ketiadaan kembang api dan selebrasi yang minim.

Tahun baru merupakan momen untuk berkumpul dengan keluarga. Banyak orang mudik ribuan kilometer ke kampung halaman untuk bertemu keluarga.

Namun banyak keluarga di Hong Kong terpecah akibat pandangan yang berbeda terhadap pemerintah China.

Bagi mayoritas penduduk, topik ini seperti tabu, setidaknya bagi mereka yang ingin menghindari adu argumentasi di meja makan.

Seorang perempuan bernama Cheng, berkata kepada BBC, perbedaan itu begitu serius sehingga ia memutuskan tidak merayakan imlek dengan mertuanya.

"Tahun ini keluarga-keluarga terbelah. Orang-orang dengan pandangan politik berbeda tidak lagi berbicara satu sama lain," kata Cheng.

"Namun di sisi lain, Anda menjadi sangat dekat dengan orang-orang yang secara biologis tidak terikat denganmu. Ini lebih karena persamaan pemikirian," tuturnya.

Unjuk rasa terus terjadi

Walau tidak terjadi lagi demonstrasi yang berakhir kisruh dalam beberapa waktu terakhir, pengunjuk rasa belum berhenti menggelar pertemuan para penolak pemerintah China.

Rabu lalu misalnya, ratusan orang berkumpul di depan pusat tahanan yang dihuni banyak demonstran--mayoritas dari mereka adalah pelajar.

Para pengunjuk rasa ingin menunjukkan solidaritas dengan mereka yang ditangkap. (BBC Indonesia)

Para demonstran itu datang membawa makanan dan surat, dua barang yang diperbolehkan diterima tahanan.

Mereka berkata, itulah cara mereka merayakan imlek, yaitu dengan orang-orang yang ditahan akibat unjuk rasa sehingga tak bisa mudik atau berkumpul dengan keluarga.

Chi-kuen berdiri di depat pusat tahanan itu. Salah satu kawannya sudah ditahan lebih dari sebulan.

"Kami ingin saudara-sadara kami tahu bahwa walau mereka tidak bisa keluar merayakan tahun baru, kami datang ke sini untuk mereka," ujarnya.

"Pemerintah ingin kami percaa bahwa segala sesuatu sudah normal. Itu adalah sebuah kebohongan."

Salam imlek yang terinspirasi gerakan demo

Dalam tradisi China, banyak keluarga mendekorasi rumah mereka dengan tulisan-tulisan kaligrafi Mandarin di atas kertas merah.

Kertas-kertas itu biasanya berisi harapan terhadap satu sama lain, terutama tentang kesehatan dan kesuksesan pada tahun yang baru.

Namun pada imlek kali ini, banyak penyokong gerakan prodemokrasi memilih mendekorasi rumah mereka dengan slogan-slogan berbeda dan dalam bahasa Inggris.

Slogan protes ditulis dengan huruf yang mirip kaligrafi tradisional China. (BBC)

Mereka berharap pemerintah Hong Kong setuju memberi amnesti kepada pengunjuk rasa yang kini ditahan. Ada pula harapan atas penyelidikan independen terhadap dugaan brutalitas kepolisian.

Banyak orang di Hong Kong berharap kampung halaman mereka ini bisa kembali normal. Namun para demonstran belum akan berhenti bergerak. Situasi ini mungkin akan terus terjadi hingga beberapa waktu ke depan.

Reportase oleh dua wartawan BBC China, Jeff Li dan Fan Wang

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini