Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

9 Upacara Pemakaman di Indonesia, Nomor 6 Tergolong Ekstrem

Maulidia , Jurnalis-Minggu, 26 Januari 2020 |14:37 WIB
9 Upacara Pemakaman di Indonesia, Nomor 6 Tergolong Ekstrem
Situs adat masyarakat Toraja (Foto Mister Aladin)
A
A
A

6. Pembakaran Jenazah dan Potong Jari

Suku Dani yang menghuni lembah Baliem, Papua memang memiliki banyak tradisi unik, termasuk untuk urusan kematian. Tradisi yang dilakukan oleh Suku Dani saat kematian seseorang yaitu salah satu dari mereka harus memotong ruas jari.

Tradisi ini memang ekstrem. Tapi, menurut kepercayaan mereka memotong jari merupakan simbol sebagai ungkapan rasa sakit dan sedih. Setelah pemotongan jari selesai, mereka akan mandi di lumpur lalu mengelilingi jenazah yang akan dibakar dalam keadaan menangis.

7. Ngaben

Ngaben merupakan upacara kreamasi atau pembakaran jenazah bagi umat Hindu di Bali. Tak hanya jenazah yang dibakar, benda-benda seperti patung, bunga, dan berbagai persembahan lainnya juga turut dibakar dalam upacara Ngaben.

Ngaben diartikan sebagai simbol keikhlasan dari keluarga untuk melepas kepergian anggota keluarganya. Upacara Ngaben juga dapat diartikan untuk melepas roh dari duniawi dan mengembalikan unsur dari Panca Maha Butha ke alam semesta.Ngaben

Ngaben (Okezone)

8. Mumifikasi

Suku Asmat di Papua juga memiliki upacara pemakaman unik. Bagi mereka yang memiliki kedudukan tertinggi seperti kepala suku atau panglima perang, akan dimakamkan berbentuk seperti mumi.

Tubuh mereka akan diolesi zat-zat tertentu kemudian diletakkan di atas perapian hingga terkena asap secara perlahan. Namun, setelah beberapa tahun mayat yang diposisikan dalam keadaan duduk akan berubah warna menjadi hitam dan disimpan di rumah pria dan akan dikeluarkan kembali jika ada tamu yang datang.

9. Kuburan Bayi dalam Pohon

Tradisi mengubur bayi di dalam pohon Tarra masih kerap dilakukan oleh masyarakat di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Pohon Tarra itu terletak di kawasan Kambira, Tana Toraja.

Menurut kepercayaan masyarakat, bayi yang meninggal dan belum memilki gigi akan dimasukkan ke dalam pohon yang penuh getah.

Proses pemakaman ini sering disebut dengan Passiliran yang akan dilakukan secara sederhana, namun berbeda dengan adat upacara di Rambu Solo.

Pohon Tarra memang sengaja dipilih karena mengandung getah yang banyak. Getah dari pohon Tarra diibaratkan seperti air susu dan ruangannya dianggap sebagai rahim. Masyarakat Toraja percaya proses pemakaman bayi di dalam pohon Tarra dilakukan agar kelak bayi yang sudah meninggal bisa terlahir kembali dari rahim ibu yang sama.

(Salman Mardira)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement