Menurut dia, hanya perlu waktu beberapa pekan untuk menghanguskan hutan dan perlu waktu puluhan tahun untuk bisa merestorasinya kembali.
Sementara itu, induk dan anak orangutan yang diberi nama Mama Rawa dan baby Rawa ini dibawa ke Pusat Rehabilitasi Orangutan IAR Indonesia di Sungai Awan, Ketapang untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut.
Nantinya kedua orangutan ini akan dipindahkan ke hutan yang lebih layak untuk menjamin kehidupannya. “Kebakaran hutan sejauh ini merupakan ancaman terbesar bagi orangutan di wilayah kerja IAR Indonesia," timpal Karmele L. Sanchez, Direktur Program IAR Indonesia.
Menurut dia, hilangnya hutan dengan skala sebesar ini, membuat tidak ada lagi cukup ruang bagi orangutan untuk bertahan hidup. Penyelamatan selalu merupakan pilihan terakhir.
"Tetapi kadang-kadang itulah satu-satunya pilihan. Karena kita tidak bisa membiarkan orangutan hidup di sisa-sisa pepohohan yang telah dimakan api dan tidak ada lagi tempat bagi mereka untuk pergi," ujarnya.
Demi kehidupan semua populasi orangutan yang tersisa, dikatakan Karmele, semua pihak harus terus bekerja sangat keras untuk melindungi habitat mereka dari kebakaran.
"Kepedulian akan keberadaan dan kelestarian satwa menjadi tanggungjawab bersama baik pemerintah, mitra maupun masyarakat. Pada hakekatnya peduli pada satwa liar adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri," tutupnya.
(Awaludin)