Dampak Karhutla Masih Menyisakan Luka, Penyelamatan Orangutan Terus Dilakukan

Ade Putra, Okezone · Jum'at 07 Februari 2020 23:03 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 07 340 2165130 dampak-karhutla-masih-menyisakan-luka-penyelamatan-orangutan-terus-dilakukan-iIEAPSphoh.jpg Penyelamatan Orangutan (foto: IAR Indonesia)

PONTIANAK - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) besar-besaran pada musim kemarau 2019 lalu masih menyisakan duka. Kerusakan ekologi akibat api tidak bisa pulih begitu saja, meskipun hujan sudah kembali membasahi bumi. Efek karhutla masih terasa hingga saat ini.

Sebagai makhluk yang hidupnya sangat bergantung pada keberadaan hutan, orangutan paling merasakan dampak hancurnya hutan akibat karhutla ini. Kebakaran yang menghancurkan rumah mereka membuat satwa dilindungi ini kehilangan tidak hanya sumber makanan, tetapi juga merampas ruang hidupnya.

Mereka terpaksa mencari tempat yang lebih baik, meskipun kenyataannya hutan sudah benar-benar musnah dan tidak ada lagi tempat untuk menyelamatkan diri. Mereka biasanya akan berakhir di kebun atau pemukiman warga dan menghadapi risiko konflik dengan manusia. Kondisi ini terus terjadi.

 Baca juga: 10 Hektar Kebun Sawit di Siak Terbakar, Petugas Pemadam Kewalahan

Baru-baru ini, migrasinya orangutan ke pemukiman warga terjadi di kawasan Jalan Pelang-Tumbang Titi km 9, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

 Penyelematan Orangutan

Purnomo, seorang warga mengaku adanya orangutan yang sudah tiga hari bersarang di depan rumahnya di Jalan Pelang-Tumbang Titi tersebut. Menurut keterangannya, orangutan-orangutan ini berasal dari hutan di sebelah timur jalan yang hangus terbakar dan kemudian menyeberang jalan raya.

Ironisnya, tempat para orangutan menyelamatkan diri inipun sudah tidak lagi menyisakan pepohohan yang cukup layak untuk mereka makan dan mencari penghidupan.

 Baca juga: Jokowi: 99% Karhutla karena Ulah Manusia Bermotif Ekonomi

Tak mau berkonflik dengan satwa ini, Purnomo pun melapor ke pihak terkait. Tim gabungan IAR Indonesia dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi wilayah (SKW) I Ketapang kemudian turun ke lokasi untuk melakukan penyelamatan.

Upaya penyelamatan pada Minggu 2 Februari 2020 ini, merupakan yang kesekiankalinya. Setelah sebelumnya tim gabungan menyelamatkan belasan orangutan yang kehilangan rumah pasca karhutla besar 2019.

"Penyelamatan tiga individu orangutan (dua induk dan anak) dari Jalan Pelang-Tumbang Titi ini dilakukan lantaran di hutan tempat kedua orangutan ini sudah habis terbakar, menyisakan sisa batang pohon yang hangus dan ilalang yang mulai tumbuh," ujar Argitoe Ranting, Manager Survey, Release dan Monitoring yang terjun langsung dalam kegiatan penyelamatan ini dalam keterangan pers yang diterima Okezone, Jumat (7/2/2020).

Dijelaskannya, ketika tim penyelamat datang, tim menemukan tiga individu orangutan. Yakni, satu jantan dewasa, satu betina dewasa dan anaknya yang diperkirakan berusia 3 tahun.

"Mereka bertahan di pohon kering yang nampaknya kepayahan menahan beban mereka," ujarnya.

Bahkan, tim penyelamat yang berfokus pada penyelamatan induk perempuan dan anak ini sempat kehilangan induk orangutan jantan.

“Karena kami mengutamakan menyelamatkan induk dan anak ini karena kondisi keduanya lebih mengkhawatirkan daripada orangutan yang jantan," ungkapnya.

Orangutan jantan itu, masih sangat liar dan cukup kuat. Tim berpikir orangutan jantan ini masih akan lebih bisa bertahan untuk waktu yang lama.

"Meskipun demikian kami tetap menurunkan tim patroli Orangutan Protection Unit (OPU) untuk melakukan patroli dan monitoring di sekitar kawasan ini karena sebenarnya daya dukung kehidupan untuk orangutan bisa dikatakan tidak ada sama sekali,” jelasnya lagi.

Untuk mengevakuasi induk dan anak orangutan ini, tim penyelamat menggunakan senapan bius agar menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara di lapangan, induk orangutan ini mengalami malnutrisi dengan badan yang sangat kurus. Diduga induk anak orangutan ini mengalami kelaparan selama berbulan-bulan.

"Tidak mengherankan melihat kondisi hutan yang hancur lebur dilalap api pada akhir tahun silam. Pemantauan dari udara menunjukan sudah tidak ada lagi hutan yang layak bagi orangutan ini untuk hidup dalam radius beberapa kilometer," katanya.

Menurut dia, hanya perlu waktu beberapa pekan untuk menghanguskan hutan dan perlu waktu puluhan tahun untuk bisa merestorasinya kembali.

Sementara itu, induk dan anak orangutan yang diberi nama Mama Rawa dan baby Rawa ini dibawa ke Pusat Rehabilitasi Orangutan IAR Indonesia di Sungai Awan, Ketapang untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut.

Nantinya kedua orangutan ini akan dipindahkan ke hutan yang lebih layak untuk menjamin kehidupannya. “Kebakaran hutan sejauh ini merupakan ancaman terbesar bagi orangutan di wilayah kerja IAR Indonesia," timpal Karmele L. Sanchez, Direktur Program IAR Indonesia.

Menurut dia, hilangnya hutan dengan skala sebesar ini, membuat tidak ada lagi cukup ruang bagi orangutan untuk bertahan hidup. Penyelamatan selalu merupakan pilihan terakhir.

"Tetapi kadang-kadang itulah satu-satunya pilihan. Karena kita tidak bisa membiarkan orangutan hidup di sisa-sisa pepohohan yang telah dimakan api dan tidak ada lagi tempat bagi mereka untuk pergi," ujarnya.

Demi kehidupan semua populasi orangutan yang tersisa, dikatakan Karmele, semua pihak harus terus bekerja sangat keras untuk melindungi habitat mereka dari kebakaran.

"Kepedulian akan keberadaan dan kelestarian satwa menjadi tanggungjawab bersama baik pemerintah, mitra maupun masyarakat. Pada hakekatnya peduli pada satwa liar adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri," tutupnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini