Share

Terjerat Kasus Pembunuhan Mantan Istri, PM Lesotho Menolak Mundur

Rahman Asmardika, Okezone · Jum'at 24 April 2020 13:34 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 24 18 2204246 terjerat-kasus-pembunuhan-mantan-istri-pm-lesotho-menolak-mundur-lAd8o3FS3e.jpg PM Lesotho Thomas Thabane dan istrinya Maesaiah. (Foto: AFP)

MASERU - Perdana Menteri Lesotho Thomas Thabane menolak tawaran pensiun segera secara terhormat, setelah dia diduga terlibat dalam kasus pembunuhan mantan istrinya. Kepada media lokal, Thabane mengatakan bahwa dia tidak akan diperintah kapan harus mundur dari jabatannya.

Pemimpin berusia 80 tahun itu berada di bawah tekanan untuk mundur setelah dikaitkan dengan pembunuhan terhadap mantan istrinya yang berusia 58 tahun, Lipolelo Thabane, tiga tahun lalu.

Pada Senin (20/4/2020) Pemerintah koalisi Lesotho dan mediator Afrika Selatan merilis pernyataan bersama, mengatakan bahwa turunnya Thabane harus terhormat dan bahwa ia harus mendapatkan apa yang digambarkan pernyataan itu sebagai pensiun yang aman.

Tidak jelas apakah itu berarti Thabane tidak akan lagi menghadapi konsekuensi hukum atas dugaan hubungannya dengan pembunuhan mantan istrinya.

Istrinya saat ini, Maesaiah Thabane, telah didakwa sehubungan dengan penembakan dan kematian Lipolelo, yang terjadi dua hari sebelum pelantikan Thabane pada 2017.

Diwartakan VOA, Thabane sebelumnya berjanji untuk meninggalkan jabatannya pada akhir Juli 2020, tetapi surat kabar independen pada Kamis (23/4/2020) mengutip perdana menteri yang mengatakan dia ingin menyelesaikan beberapa rencana yang tidak ditentukan yang sudah ada sebelum meninggalkan kantor.

Thabane juga telah dikritik karena memanggil pasukan akhir pekan lalu, menyusul klaimnya bahwa beberapa pemimpin dalam penegakan hukum berusaha untuk merusak demokrasi di negara kecil yang dikelilingi oleh Afrika Selatan itu.

Para pengamat yakin pengerahan pasukan ke Ibu Kota, Maseru, adalah upaya terakhir Thabane untuk tetap berkuasa. Sehari sebelum dia memanggil pasukan, otoritasnya mendapat pukulan lagi ketika pengadilan konstitusi menolak keputusan Thabane untuk menskors parlemen.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini