Bupati Nonaktif Muara Enim Divonis 5 Tahun Penjara

Era Neizma Wedya, iNews.id · Selasa 05 Mei 2020 16:41 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 05 610 2209615 bupati-muara-enim-nonaktif-ahmad-yani-divonis-5-tahun-penjara-2UuivkaYA0.jpg Bupati Muara Enim nonaktif Ahmad Yani (Foto: Era Neizma Wedya)

PALEMBANG - Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Palembang akhirnya memvonis 5 tahun penjara dan denda Rp200 juta subsider 6 bulan kurungan terhadap Bupati Muara Enim nonaktif Ahmad Yani, Selasa (5/5/2020). Dalam persidangan itu, Yani terbukti bersalah melanggar ketentuan sebagaimana dalam dakwaan pertama Pasal 12 a UU Tipikor Jo 55 Ayat (1) ke-1 KUHP Jo Pasal 64 Ayat (1) KUHP.

Ketua majelis hakim Erma Suharti mengungkapkan, terdakwa harus membayar uang pengganti sebesar Rp 2,1 miliar yang apabila tidak dibayar selama 1 bulan, maka harta benda terdakwa akan dilelang. Dan apabila tidak mencukupi, maka digantikan dengan 8 bulan kurungan.

Diketahui, vonis hakim tersebut lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang pada sidang beberapa waktu lalu menuntut Ahmad Yani agar mendapat hukuman 7 tahun penjara dan denda Rp 300 juta subsider 6 bulan kurungan. Bahkan, JPU menuntut agar terdakwa membayar uang pengganti Rp3,1 miliar subsider 1 tahun penjara.

Baca Juga: Bupati Muara Enim Nonaktif Ngaku Tak Terima Suap Proyek Jalan

Dalam pertimbangannya, majelis hakim juga menolak tuntutan JPU yang menuntut agar hak politik Ahmad Yani dicabut. Sedangkan pada sidang beberapa waktu lalu, JPU menuntut agar hak politik Ahmad Yani dicabut selama 5 tahun terhitung sejak ia dibebaskan dari penjara.

"Adapun hal-hal memberatkan bagi terdakwa yakni tidak mendukung pemerintah dalam memberantas korupsi serta sebagai seorang bupati seharusnya menjaga kepercayaan warganya. Sedangkan hal yang meringankan yakni terdakwa sebagai kepala keluarga yang mempunyai tanggungan keluarga," ujar hakim.

ilustrasi foto: ist

Maqdir Ismail, kuasa hukum Ahmad Yani mengatakan, pihaknya masih pikir-pikir atas putusan tersebut. Namun dalam kesempatan itu, Maqdir juga menyampaikan beberapa poin dalam putusan yang dinilainya mengecewakan.

Di antaranya terkait mobil Lexus yang dalam catatan Pemda kabupaten Muara Enim merupakan pinjaman. Namun, dari putusan majelis hakim tidak ada catatannya. Sebenarnya kami juga tidak ingin memperpanjang, termasuk soal 35 ribu USD. Karena memang tidak pernah ada.

“Seharusnya pihak penyidik dan penuntut juga memanggil Erlan dan ajudan kapolda. Akan tetapi hingga detik ini, hal itu tidak pernah dilakukan," ujarnya.

Ditambahkan Maqdir, bahwa selama persidangan seolah semua kebenaran berada di pihak A.Elfin MZ Muchtar yang merupakan PPK proyek yang juga ditetapkan sebagai terdakwa dalam perkara ini. "Kami akan membicarakan dulu bagimana langkah kami untuk menyikapu putusan ini, karena menurut kami ini tidak adil.," ujarnya.

Diketahui, Bupati Muara Enim nonaktif Ahmad Yani ditangkap KPK atas dugaan kasus suap di Dinas PUPR Muara Enim pada 2 September 2019 lalu. Tepatnya pada proyek Dana Aspirasi DPRD Kabupaten Muara Enim pada proyek APBD Murni TA 2019 di Dinas PUPR Kabupaten Muara Enim senilai Rp130 miliar.

Selain itu, juga kontraktor Robi Okta Fahlevi telah diputus bersalah sebagai penerima suap dan divonis 3 tahun penjara serta denda Rp250 juta subsider 6 bulan. Sedangkan A.Elfin MZ Muchtar selaku PPK proyek juga divonis bersalah dan dihukum 4 tahun penjara serta denda Rp200 juta. Ia juga divonis mengembalikan uang pengganti senilai Rp2,6 miliar.

Dalam dakwaan sebelumnya dikatakan Ahmad Yani mengatur kesepakatan dengan terdakwa A.Elfin MZ Muchtar untuk memenang kontraktor Robi Okta Fahlevi sebagai pemenang proyek. Dengan kesepakatan Ahmad Yani menerima komitmen fee sebesar 10% dari proyek tersebut.

Baca Juga: KPK Tangkap 2 Tersangka Terkait Kasus Suap Bupati Muara Enim

Sedangkan 5% lagi diterima oleh sejumlah pejabat lain di Muara Enim. Ahmad Yani juga disebut menggunakan nama Omar saat menerima aliran dana sebagaimana yang diungkap dalam persidangan. Dan nama Omar tertulis dalam buku biru catatan Jenifer yang merupakan asisten Robi Okta Fahlevi yang dibeberkan pada sidang beberapa waktu lalu.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini