nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Puluhan Jamaah Tarekat Naqsabandiyah Salat Id di Masjid

Rus Akbar, Okezone · Sabtu 23 Mei 2020 11:05 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 05 23 340 2218448 puluhan-jamaah-tarekat-naqsabandiyah-salat-id-di-masjid-I9Fvr1fEAM.jpg Jamaah Tarekat Naqsabandiyah Salat Id di masjid. (Foto: Okezone.com/Rus Akbar)

PADANG – Jamaah Tarekat Naqsabandiyah menggelar Salat Idul Fitri 1441 Hijriah di Pasar Baru, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat, pukul 08.00 WIB, Sabtu (23/5/2020). Ada dua masjid yang mengggelar Salat Id hari ini, yakni Surau Baru yang berada di belakang Polsek Pauh dan Masjid Baitul Makmur yang berjarak sekira 200 meter dari Surau Baru.

Pelaksanaan Salat Id di Baitul Makmur dipimpin Alfidman dan khatib Afrizal Tanjung. Setelah Salat Id selama 10 menit, khatib membacakan khutbah memakai Bahasa Arab. Meski sebagian tidak mengerti Bahasa Arab, namun jamaah khusuk mendengarkan.

Khatib yang menyampaikan kotbah memakai kopiah yang dililit kain selendang menyerupai sorban, sementara tangan kirinya memakai tongkat. Khotbah ditulis di kertas panjang, sehingga satu jamaah memegang kertas yang sudah menjulur ke lantai.

(Foto: Okezone.com/Rus Akbar)

Usai mendegarkan khutbah, para jamaah langsung berebutan menyalami guru Buya Syafri Malin Mudo, yang juga tokoh Naqsabandiyah.

Baca juga: Sholat Id Berjamaah di Pandemi Covid-19, MUI: Hendaknya Hindari Kerusakan

Proses Salat Id di Surau Baru tak jauh berbeda. Imam salat adalah Asmar dan khatibnya Zahar.

Menurut Zahar, penetapan jatuhnya hari raya Idul Fitri berdasarkan kitab munjid yang dianut oleh Tarekat Naqsabandiyah.

“Dalam menetapkan hari raya ini ada lima dasar, hisab, rukyat, dalil dan ijma, itu tercantum dalam kitab munjid,” katanya, Sabtu (23/5/2020).

(Foto: Okezone.com/Rus Akbar)

Lanjut Zahar, hisab itu artinya menghitung tanggal, rukyat mengamati bulan sebagai penanda masuknya waktu puasa, dalil merupakan alasan tentang kebenaran untuk menetapkan puasa, lalu ijma merupakan kesepakatan bersama untuk memutuskan kapan jatuhnya puasa dan lebaran.

“Dengan metode (ini) kita sudah mengetahui tahun besok kapan puasanya dan lebarannya, jika kita puasa hari Kamis maka kita rayakan hari Kamis juga, itu contohnya,” ujarnya.

Jika dibanding tahun lalu dan sekarang, jamaah di madjid Baitul Makmur tidak terlalu ramai, hanya sekira 80 jamaah.

“Ini karena corona, orang takut berkumpul di masjid,” ujarnya.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini