Intensitas gempa itu maksimum mencapai IV MMI dirasakan di Kota Bengkulu, Kabupaten Bengkulu Utara, Mukomuko, Seluma dan Kabupaten Kepahiang. Lalu, III MMI dirasakan di Kabupaten Bengkulu selatan, Kaur, Curup dan Kabupaten Lebong dan II-III MMI dirasakan di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan.
Di mana intensitas IV MMI ini, terang Sabar, berpotensi mengakibatkan kerusakan pada perabot rumah tangga.
''Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut,'' terang Sabar.
BMKG Pasang 5 WRS New Gen di Bengkulu
Bengkulu merupakan salah satu provinsi yang rawan di guncang gempa dan gelombang tsunami. Provinsi berjuluk Bumi Rafflesia ini terdapat dua sumber gempa bumi yang setiap saat bisa terjadi.
Sumber pertama, potensi gempa bumi yang terletak di wilayah lautan. Di mana batas pertemuan dua lempeng. Lempeng Indo-Australia dan Eurasia, namanya. Lempeng Indo-Australia, relatif bergerak ke arah utara. Sementara lempeng Eurasia bergerak ke arah Selatan.
Sehingga karakteristik gempa yang terjadi pada bagian laut ini memiliki kekuatan mulai dari gempa-gempa kecil hingga gempa besar. Selain itu, gempa bumi yang terjadi juga bisa berpotensi menimbulkan gelombang tsunami jika syarat-syarat terpenuhi.
Selain potensi gempa dari lautan, daerah ini juga memiliki potensi gempa di wilayah daratan. Hal ini terjadi karena adanya sistem patahan lokal Sumatera yang melalui wilayah Bengkulu. Di mana ada tiga patahan lokal yang ada di wilayah Bengkulu.
Seperti patahan Musi (Segmen Musi) yang terletak di Kabupaten Kepahiang, patahan Manna (Segmen Manna) yang terletak di Kabupaten Bengkulu Selatan, dan patahan Ketahun (Segmen Ketahun). Karakteristik gempa bumi darat tersebut biasa terjadi dengan kekuatan lebih kecil dari pada gempa bumi di laut.
Dengan adanya tingkat kerawanan gempa yang berpotensi memicu gelombang tsunami di Bengkulu, Stasiun Geofisika, Kelas III Kepahiang, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bengkulu, memasang Warning Receiver System (WRS) New Gen.
WRS itu, kata Sabar, di pasang dilima lokasi di Bengkulu. Seperti, di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kaur, Kabupaten Seluma, Kabupaten Bengkulu Utara, Kabupaten Mukomuko, dan Kantor Stasiun Geofisika, Kelas III Kepahiang, BMKG Bengkulu, di Kabupaten Kepahiang.
''Ada 315 lokasi pemasangan WRS di seluruh Indonesia, di Bengkulu ada 5 lokasi pemasangan WRS. WRS New Gen ini inovasi BMKG dalam penyebaran data dan informasi gempa bumi dan tsunami,'' kata Sabar.
WRS New Gen Bersifat Real Time Otomatis Dari BMKG
Sabar mengatakan, WRS New Gen merupakan peralatan penerima informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami berupa smart display. Sehingga menjamin stakeholder menerima informasi gempa dan peringatan dini tsunami guna mengambil langkah selanjutnya.
Perbedaan dan kelebihan WRS New Gen, jelas Sabar, adanya informasi gempa bumi real time. Hal ini merupakan terobosan baru BMKG dalam penyebarluasan informasi gempa dan peringan dini tsunami yang memberikan informasi gempa secara lebih cepat.
''WRS New Gen ini bersifat real time otomatis dari BMKG,'' imbuh Sabar.

Pemasangan 5 WRS, sambung Sabar, juga untuk memperluas jangkauan informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami. Di mana, kata Litman, sistem WRS New Gen ini akan termonitor secara langsung di BMKG Pusat, secara berkelanjutan selama 24/7.
Sehingga, lanjut Sabar, tingkat keberhasilan penyebaran informasi gempa dan informasi peringatan dini tsunami dari BMKG, kepada lembaga perantara atau institusi interface berjalan optimal dan dapat diterima dengan tepat sasaran.
Di mana, terang Sabar, media komunikasi yang digunakan untuk mengirimkan informasi berupa komunikasi IP to IP yang bersifat dua arah, dari server dapat menjangkau ke client dan sebaliknya.
''Dengan jenis komunikasi dua arah ini, memungkinkan memantau status kesehatan dari perangkat secara remote dari Jakarta,'' jelas sabar.
Tujuan pemasangan sistem diseminasi (WRS New Gen), sampai Sabar, terpasangnya perangkat Warning Reciever System (WRS) New GenClient di 315 lokasi di wilayah potensi gempa bumi dan tsunami.
Selain itu, kata Sabar, terbangunnya sistem diseminasi informasi WRS terintegrasi dan termonitor setiap waktu 24/7. Lalu, terjaganya tingkat keberhasilan penyebaran informasi WRS ke lembaga interface diatas 90 persen.
''Sasaran pemasangan sistem Diseminasi (WRS New Gen) meningkatkan layanan mitigasi gempa bumi dan tsunami, dan memperluas jangkauan informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami,'' ujar Sabar.