Bicara dengan Trump, Raja Salman Inginkan Solusi Permanen dan Adil Bagi Palestina

Rahman Asmardika, Okezone · Senin 07 September 2020 17:26 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 07 18 2273942 bicara-dengan-trump-raja-salman-inginkan-solusi-permanen-dan-adil-bagi-palestina-dK8CAfvqnU.jpg Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al Saud. (Foto: Anadolu)

RIYADH – Raja Salman bin Abdulaziz menyatakan kesediaan Arab Saudi untuk "solusi permanen dan adil bagi perjuangan Palestina untuk membawa perdamaian" dalam percakapan telepon dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Penjaga Dua Masjid Suci menambahkan itu adalah awal dari upaya Kerajaan dan Prakarsa Perdamaian Arab tahun 2002.

Sekretaris Pers Gedung Putih Judd Deere mengatakan bahwa Trump menyambut baik keputusan Arab Saudi yang mengizinkan penggunaan wilayah udaranya untuk penerbangan Israel dan Uni Emirat Arab (UEA) pekan lalu. Trump juga mendesak Raja Salman untuk bernegosiasi dengan negara-negara Teluk lainnya untuk mengatasi keretakan regional yang disebabkan oleh perjanjian damai UEA dan Israel yang ditengahi AS.

BACA JUGA: Bahrain Tolak Normalisasi Hubungan dengan Israel Tanpa Ada Negara Palestina

Menurut Deere, percakapan kedua pemimpin itu menampilkan diskusi tentang "cara untuk meningkatkan keamanan dan kemakmuran regional" dengan penekanan pada pentingnya perjanjian UEA-Israel tentang normalisasi hubungan, yang dikenal sebagai Abraham Accord, demikian diwartakan Sputnik.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Saudi Faisal bin Furhan mengomentari kesepakatan masa depan Israel-UEA, mengatakan bahwa Kerajaan tetap teguh dalam posisinya yang mendukung perjuangan Palestina dan Inisiatif Perdamaian Arab serta resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan untuk menciptakan kemerdekaan Negara Palestina dengan Ibu Kota di Yerusalem Timur.

BACA JUGA: UEA dan Israel Sepakati Perjanjian Damai, Normalisasi Hubungan

UEA mengatakan bahwa terlepas dari normalisasi hubungan dengan Israel, Abu Dhabi tidak menentang pembentukan negara Palestina yang merdeka. Pada Agustus, kedua negara mencapai kesepakatan di mana Israel akan menangguhkan rencana aneksasi Tepi Barat. Kesepakatan itu ditanggapi secara negatif oleh otoritas Palestina.

Para pemimpin Palestina dan Arab secara tradisional bersikeras untuk memulihkan perbatasan antara Israel dan Palestina ke tempat sebelum Perang Enam Hari 1967 sebagai dasar perdamaian.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini