Putin: Hampir 5.000 Orang Tewas dalam Konflik di Nagorno-Karabagh

Agregasi BBC Indonesia, · Jum'at 23 Oktober 2020 18:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 23 18 2298556 putin-hampir-5-000-orang-tewas-dalam-konflik-di-nagorno-karabagh-Qxp1dsXduz.jpg Tentara Armenia di Nagorno-Karabagh. (Foto: EPA)

MOSKOW - Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengatakan bahwa hampir 5.000 orang tewas dalam pertempuran antara pasukan Azerbaijan dan Armenia memperebutkan wilayah Nagorno-Karabakh yang disengketakan. Jumlah yang disebut Putin itu jauh lebih tinggi dari angka kematian yang dilaporkan kedua belah pihak.

"Ada banyak korban dari kedua sisi, lebih dari 2.000 dari masing-masing pihak," kata Putin pada pertemuan yang disiarkan stasiun televisi sebagaimana dilansir BBC. Dia menambahkan bahwa jumlah korban "mendekati 5.000".

BACA JUGA: Pertempuran Kembali Pecah di Nagorno-Karabagh, Armenia Tembak Jatuh Helikopter Azerbaijan

Ini jauh lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya, dengan jumlah kematian resmi yang dilaporkan masih di bawah 1.000.

Otoritas Nagorno-Karabakh mengatakan 874 personel militernya dan 37 warga sipil telah kehilangan nyawa sejak 27 September. Sementara Azerbaijan mengatakan 61 warga sipil Azeri tewas, tetapi belum mengumumkan jumlah korban militernya.

Putin menambahkan bahwa dia terus berkomunikasi dengan Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan, dan Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev, dan mengatakan tidak akan memihak.

"Saya berbicara dengan mereka di telepon beberapa kali sehari," katanya.

Rusia telah menyatakan tidak memihak dalam konflik ini. Moskow berada dalam aliansi militer dengan Armenia dan memiliki pangkalan militer di negara tersebut, namun juga memiliki hubungan dekat dengan Azerbaijan.

Dia mengatakan tidak setuju dengan Turki yang memberikan dukungannya kepada Azerbaijan.

Presiden Rusia juga meminta Amerika Serikat (AS) untuk membantu mengupayakan perdamaian di wilayah tersebut.

Armenia menuduh Azerbaijan melanggar gencatan senjata kemanusiaan di Nagorno-Karabakh, dan begitu pula sebaliknya.

BACA JUGA: Gencatan Senjata Dilanggar, Krisis Kemanusiaan Bayangi Nagorno-Karabagh

Pertempuran berkobar bulan lalu di wilayah, yang secara internasional diakui sebagai bagian dari Azerbaijan tetapi dikendalikan etnis Armenia tersebut. Ini adalah konflik terburuk sejak perang selama enam tahun di wilayah tersebut yang berakhir dengan gencatan senjata pada 1994.

Pembicaraan antara Armenia dan Azerbaijan diperkirakan akan berlangsung di Washington pada Jumat (23/10/2020), ketika Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, dijadwalkan bertemu dengan menteri luar negeri kedua negara.

AS, Rusia, dan Prancis adalah pimpinan bersama kelompok mediasi OSCE Minsk, yang menyerukan gencatan senjata.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini