Arca Bermotif Manusia Ditemukan di Situs Srobu

Edy Siswanto, Okezone · Kamis 19 November 2020 17:17 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 19 340 2312535 arca-bermotif-manusia-ditemukan-di-situs-srobu-EDcOoXgGLj.jpg Arca bermotif manusia di situs Srobu. Foto Edy Siswanto

JAYAPURA – Balai Arkeologi Papua berhasil menemukan beberapa Arca (patung terbuat dari batu yang dipahat) peninggalan manusia prasejarah di Situs Gunung Srobu Kelurahan Abe Pantai Distrik Abepura Kota Jayapura.

Arca berukir bermotif manusia ini berhasil ditemukan pada segmen ke -5 atau areal pemakaman/ pemujaan dari Situs Gunung Srobu, sejak mulai dieksavasi pada 2014 lalu. Dan akhir tahun ini menjadi penemuan yang spektakuler dengan ditemukannya arca-arca tersebut.

Salah satu peneliti senior Balai Arkeologi Papua yang intens meneliti situs tersebut adalah Erlin Novita Idje Djami. Kepada media ini, Erlin menyebutkan, arca-arca yang ditemukan menunjukkan peradaban yang sangat tinggi pada masanya, dilihat dari motif ukir yang mirip dengan manusia, dan detail dari tiap motif, termasuk tinggalan yang berhasil ditemukan.

 “Perkiraan kami sesuai juga dengan hasil penelitian penanggalan, masyarakat Srobu telah hidup pada 1.720 tahun yang lalu, atau pada penaggalan masehi diperkirakan telah ada sejak abad ke 3 atau ke 4. Namun tingkat peradaban mereka sangat tinggi. Berbeda dengan yang ada di situs Megalitik Tutari Sentani, meskipun Srobu lebih tua. Disitus ini juga ditemukan banyak tinggalan dan sekitar 300-an motif gerbah dan tinggalan lain yang sangat luar biasa,” kata Erlin.

(Baca juga: Perempuan Berbaju Batik Tanpa Celana Ditemukan Tewas)

Dijelaskan, Arca yang berhasil ditemukan tersebut memiliki motif manusis dengan posisi duduk lengkap dengan ukiran hiasan kepala. Arca yang diduga berkaitan erat dengan ketokohan tersebut ditemukan dipermukaan tanah pada sisi Timur Area Megalitik 5 Situs Srobu dengan dimensi panjang 60 cm, lebar 24 cm, dan tebal sekitar 5 cm.

“Ciri-ciri berupa bentuk muka bulat, kedua mata bulat, alis melengkung, hidung besar, pada bagian pipi tampak seperti taring melengkung (hiasan yang ditusuk pada hidung seperti yang dapat dilihat pada masyarakat etnografi Papua), mulut dengan bibir yang terkatup, bagian kepala menggunakan mahkota dari susunan daun yang mengembang ke atas,”terangnya.

Lalu, bagian leher arca tertutup gambar tangan menekuk dengan jari-jari terjulur ke tengah dada, di bagian bawah telapak terdapat hiasan membulat, kedua lutut yang ditekuk dan tampak kedua kaki arca dengan pola telapak kaki dengan ujung jari-jari yang saling berhadapan.

“Penggambaran arca itu secara umum dalam posisi duduk dengan kaki ditekuk di depan dada, keadaan itu memiliki kemiripan dengan kondisi mumi jenazah manusia di Wamena. Karena ini berkaitan dengan penguburan, dan tradisi ini masih dipakai kala itu. Di situs ini ada juga ditemukan kerangka manusia yang dimakamkan dengan posisi terlipat didalam perigi,”katanya.

Dirinya meyakini, arca-arca tersebut digunakan sebagai sarana pemujaan bagi leluhur. Penguburan dan pemujaan pada masa prasejarah bisa disebut satu kontek. Dan arca –arca ini diyakini juga memiliki ketokohan dengan status sosial tertentu. Jumlah kerangka individu manusia yang ditemukan sebanyak 11 individu yang tidak utuh, sementara dari tengkorak ditemukan sebanyak 6 tengkorak manusia modern.

(Baca juga: Horor! Pakaian Bekas di Pasar Cimol Gedebage Ditempeli Makhluk Halus)

“Jadi pola penguburannya menggunakan pola skunder, yang mana di dalam satu pemakaman/perigi ada lebih dari dua individu. Mereka keturunan dari manusia modern awal, yang memiliki campuran antara Astromelanisid dan Mongoloid, yang secara umum migrasi ke Papua, dan ada dua migrasi yang datang, yang awal adalah Astromelanisid atau Melanisia, dan migrasi kedua Astronesia atau ras Mongoloid,” bebernya.

Saat ini arca-arca itu sudah dibawa ke Balai Arkeologi untuk penelitian lanjut dan keamanannya. “Tiga Arca berhasil ditemukan dan kita sudah amankah di Balai"sambungnya.

Untuk diketahui, Situs Gunung Srobu memiliki luas sekitar 2 Ha lebih. Letakanya tidak terlalu jauh dengan pemukiman warga di Kelurahan Abe Pantai Distrik Abepura. Situs Gunung Seribu juga menjadi tempat warga Abepantai mencari cangkang kerang. Yang digunakan masyarakat untuk bahan baku membuat kapur sirih. (Don)

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini