JAKARTA — Menko Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud MD menyerukan sinergi antar instansi pemerintah dalam mencegah dan melawan bibit radikalisme. Hal itu diungkap Mahfud terkait dengan fenomena di Indonesia belakangan ini, termasuk sebuah temuan yang mengejutkan.
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu memperoleh foto-foto mengenai pelatihan sekelompok pemuda untuk melakukan teror terhadap orang-orang yang sangat penting atau VVIP. Namun, Mahfud tidak menjelaskan dengan gamblang lokasi latihan dan organisasi yang melatih para pemuda tersebut.
BACA JUGA: Artis Terlibat Prostitusi hingga 23 Teroris JI Ditangkap dalam Sepekan Ini
"Radikalisme sedang ada di tingkat kita, yang kalau diberi tingkat, ada tiga. Satu intoleran yang tidak suka dengan orang yang berbeda. Kedua dalam bentuk teror," jelas Mahfud dalam acara "Penyerahan Hasil Evaluasi & Rekomendasi Kebijakan Kementerian/Lembaga di Bidang Kesatuan Bangsa" yang disiarkan daring pada Kamis (17/12/2020).
Mahfud menambahkan radikalisme juga dapat berbentuk wacana yang juga masuk ke dalam tubuh kementerian dan lembaga pemerintah, serta Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Menurutnya, informasi tentang masuknya wacana radikalisme di pemerintahan bersumber dari laporan masyarakat. Karena itu, ia meminta kementerian dan lembaga berbagi peran dalam mencegah radikalisme di internal pemerintah dan masyarakat.
Pembagian peran dalam tubuh pemerintah bisa dilakukan dengan membagi tugas antar instansi negara. Misalnya Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan polisi adalah garda terdepan yang berhadapan langsung dengan teroris, sementara Tentara Nasional Indonesia (TNI) akan menjadi pihak yang menjaga teritori Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sedangkan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Kementerian Pendidikan dan Budaya, serta Kementerian Agama akan menjadi pihak yang bertanggung jawab dalam menjaga ideologi Pancasila.
Pengamat intelijen dan keamanan Stanislaus Riyanta mengatakan penargetan kelompok muda untuk direkrut sebagai teroris sudah lama dilakukan oleh semua kelompok teroris. Namun, ia menduga kelompok teroris yang melatih pemuda untuk melakukan teror terhadap orang penting di Indonesia merupakan jaringan Jamaah Islamiyah (JI) yang berafiliasi dengan Al Qaeda.