Meski telah punya anak Dasima tetap cantik seperti masa perawannya. ltulah yang mendorong tuan Edward laki-Iaki asal Inggris tak segan-segan memberikan sebuah rumah serta para pembantu yang siap melayani keperluan Dasima. Semula Dasima dan tuan Edward menetap di Curug Tangerang, kemudian pindah ke Pejambon Batavia.
Bagi lelaki perjaka dan duda, ada keinginan untuk memperisterikan Nyai Dasima. Mereka berharap bisa melihat meskipun sehelai rambut lewat jendela.
Kecantikan Dasima dalam.buku itu digambarkan sebagai berikut;
"Setiap lelaki dewasa yang lewat di depan rumahnya, manakala melihat Nyai Dasima, maka menitiklah air liur mereka. Bagi mereka yang telah beristeri, tumbuh sesaat penyesalan mengapa tidak beristerikan wanita itu saja, pastilah hidup bahagia, cahaya kecantikan yang terpancar dari bola matanya, bersih kencang kulitnya dan liuk lekuk tubuhnya yang bagai gitar.”
Kisah Njai Dasima meninggalkan jejak bangunan bersejarah yang dibangun pada abad ke – 19. Rumah Nyai Dasima bersama Toean W berada di Pejambon, tepatnya di belakang Gereja Immanuel, dekat Stasiun Gambir.