Presiden Erdogan Kutuk LGBT di Tengah Gelombang Unjuk Rasa

Agregasi BBC Indonesia, · Kamis 04 Februari 2021 06:09 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 04 18 2356142 presiden-erdogan-kutuk-lgbt-di-tengah-gelombang-unjuk-rasa-ZvNZb095Lo.jpg Presiden Turki Recep Tayyib Erdogan (Foto: reuters)

TURKI - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengutuk gerakan LGBT di negara itu di tengah gelombang protes oleh mahasiswa.

Erdogan memuji sayap pemuda partainya, AK, karena mengangkat "sejarah besar bangsa ini" dan bukan menjadi bagian dari "pemuda LGBT".

Dalam video yang diputar untuk anggota Partai AK pada Senin (01/02), Presiden Erdogan mengatakan: "Kita akan mengantarkan generasi muda menuju masa depan, tidak sebagai pemuda LGBT, tetapi sebagai pemuda yang hadir dalam sejarah besar di masa lalu.

"Anda bukan pemuda LGBT, bukan pemuda yang melakukan vandalisme. Sebaliknya, Anda adalah orang-orang yang mengobati patah hati."

(Baca juga: Kudeta Militer Myanmar, Warga Pukul Panci dan Wajan, Bunyikan Klakson Sebagai Bentuk Protes)

Bukan kali ini saja Erdogan mengecam LGBT. Dalam pidato pada Juli tahun 2020, ia menuduh kalangan aktivis LGBT merongrong "nilai-nilai nasional dan spiritual" dan "meracuni" generasi muda.

Pernyataan terbaru Presiden Erdogan disampaikan sesudah terjadi gelombang unjuk rasa selama berminggu-minggu di Unversitas Bogazici terkait dengan pengangkatan Prof Melih Bulu sebagai rektor.

Menurut para aktivis, guru besar itu mempunyai hubungan dekat dengan Partai AK yang berhaluan Islam.

Dalam salah satu aksi, pengunjuk rasa memasang karya seni di lokasi yang menghadap kantor rektor pada Jumat (29/01). Karya seni itu menggambarkan Ka'bah di Mekkah dan gambar bendera pelangi LGBT.

(Baca juga: Dinyatakan Bersalah Melawan Iran, Akademisi Inggris Melarikan Diri Melalui Pegunungan)

Pihak berwenang mengatakan empat mahasiswa ditangkap dalam kasus pemasangan karya seni dengan tuduhan "menyulut kebencian".

Melalui cuitannya pada Selasa (02/02), Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu menyebut keempat mahasiswa tersebut sebagai "LGBT menyimpang".

Twitter memberi tanda khusus pada cuitan tersebut dengan alasan isinya melanggar "peraturan tentang sikap yang mendorong kebencian", tetapi ditambahkan bahwa cuitan Suleyman Soylu tetap dapat diakses demi kepentingan publik.

Sesudah pidato Presiden Erdogan kepada anggota partainya, terjadi unjuk rasa lanjutan di Universitas Bogazici.

Secara keseluruhan terdapat 159 orang yang ditahan pada Senin (01/02), namun sekitar 100 di antara mereka akhirnya dibebaskan.

Homoseksualitas sejatinya sah di Turki tetapi penentangan secara resmi terhadap komunitas LGBT bertambah nyaring selama beberapa tahun terakhir.

Acara parade Istanbul Pride dilarang selama lima tahun berturut-turut hingga 2019. Covid-19 menggagalkan upaya untuk menggelar acara itu pada 2020.

Pada umumnya masyarakat mempunyai pandangan konservatif dan komunitas LGBT melaporkan adanya diskriminasi dan gangguan meluas yang mereka alami.

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini