China Gunakan Mobil Van dan Suntikan Mematikan untuk Eksekusi Orang

Susi Susanti, Koran SI · Jum'at 19 Februari 2021 11:05 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 19 18 2364722 china-gunakan-mobil-van-dan-suntikan-mematikan-untuk-eksekusi-orang-AxRAKLeBN4.jpg Mobil van untuk eksekusi mati di China (Foto: YouTube)

CHINA - China dilaporkan mengeksekusi lebih banyak orang daripada gabungan seluruh dunia dengan menggunakan mobil van "maut" yang mengerikan dan regu tembak.

The Sun melaporkan pakar hak asasi manusia Amnesty International memperkirakan "ribuan orang" mendapatkan hukuman mati di China setiap tahun dengan tingkat hukuman hingga 99%.

Negara bagian tidak membagikan angka tersebut tetapi diperkirakan lebih dari 657 total tahunan di seluruh dunia.

Peneliti Amnesty International China, Kai Ong, mengklaim China sering mengadakan rapat umum untuk mengumumkan hukuman mati kepada orang-orang.

“Pemerintah China masih melihat penggunaan hukuman mati sebagai pencegah kejahatan yang efektif,” terangnya.

(Baca juga: Dituduh Pelecehan Seksual, Kepala Sekolah Ditemukan Tewas di Hutan)

“Setiap bulan Juni, pemerintah daerah sering mengadakan demonstrasi hukuman massal, di mana siswa, guru, dan masyarakat diundang untuk menyaksikan pengadilan menjatuhkan hukuman mati kepada individu yang dihukum karena kejahatan terkait narkoba,” ungkapnya.

Suntikan mematikan telah mengambil alih sebagai bentuk utama eksekusi di Republik Rakyat.

Amnesty mengatakan mobil van telah memungkinkan eksekusi tahanan tanpa harus membawa mereka ke penjara sejak 2003.

Eksekusi regu tembak diklaim terus berlanjut meskipun ada klaim resmi bahwa mereka tidak akan melakukannya sejak 2010.

(Baca juga: Temukan Pistol di Tas, Anak-anak Tak Sengaja Tembak Ibunya Hingga Tewas)

“Meskipun pemerintah China mengikuti kebijakan membunuh lebih sedikit, membunuh dengan hati-hati, itu juga melihat penggunaan hukuman mati sebagai pencegah yang efektif untuk kejahatan serius, terutama kejahatan terkait narkoba,” lanjutnya.

“Tidak mungkin jumlah hukuman mati dan eksekusi baru akan turun secara signifikan dalam waktu dekat,” tambahnya.

Laporan ini muncul setelah mantan ketua Partai Komunis Lai Xiaomin dari Desa China Cai Dongjia dieksekusi pada 2019.

Mantan manajer aset negara Tiongkok berusia 58 tahun itu dibunuh karena meminta suap senilai USD300 juta (Rp4,2 triliun) antara 2008 hingga 2018.

Dia juga dituduh menikah diam-diam. Lai dihukum karena bigami dan korupsi.

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini